Senin, Oktober 17, 2016

The Werther Effect


Sebuah novel bestseller berjudul 'The Sorrow of Young Werther' karangan Goethe, terbit tahun 1774. Novel ini berkisah tentang perjuangan cinta seorang pemuda bernama Werther. Novel ini begitu bagusnya sampai-sampai para pemuda di jaman itu meniru gaya berpakaian Werther, jaket biru panjang, celana panjang kuning dan baju berkerah terbuka. Sayangnya, kisah Werther berakhir tragis. Ia menembakkan pistol ke kepalanya karena cintanya kandas. 
Lebih tragis lagi, sekitar 2000 pemuda Eropa yang membaca buku ini melakukan bunuh diri dengan cara yang sama. Fenomena ini diteliti psikolog David Philips (1974). Ia menyebut peniruan cara bunuh diri idola secara massal ini dengan istilah The Werther Effect. David Phillips menyatakan media harus berhati-hati dalam memberitakan, menerbitkan, menceritakan secara detail cerita tentang bunuh diri. Remaja yang belum dewasa, rentan untuk menirunya.
Akhir-akhir ini kita melihat fenomena yang mirip. Orang membabi buta mengikut pribadi-pribadi yang menurutnya mengagumkan. Beberapa tokoh berpendidikan bahkan ikut-ikutan. Anda bisa membayangkan lah... siapa saja kira-kira yang saya maksudkan.
Dalam bukunya, Yukl (2010) menuliskan adanya bahaya dari karisma, 'The Dark Side of Charisma". Charismatic Leader  akan ditiru, diikuti, tanpa bertanya oleh para pengikutnya. Contohnya Hitler, Musollini, dan banyak tokoh lain. Tidak heran banyak orang dengan mudahnya tertipu, dan mengikuti apapun yang dikatakan tokoh-tokoh yang menyatakan diri mereka tokoh agama, yang sekarang ditangkap karena kasus kriminalitas. 
Saat orang membabi buta mengikuti seseorang untuk melakukan hal yang salah, hampir mustahil bagi pihak lain untuk menyadarkan pengikut yang banyak dan loyal itu. Akan sangat menghabiskan energi dan waktu, ditambah lagi mereka akan merasa diserang keyakinannya. Dan itu mampu menimbulkan reaksi perlawanan yang mengerikan. Maka, treatment yang efektif adalah menyadarkan pemimpinnya. Nah, kalau pemimpinnya sudah terlanjur gila beneran, susah juga. Maka fenomena ini harus direm sebelum muncul.
Di lingkup kita masing-masing, sebenarnya kita memiliki kumpulan orang yang "membaca novel kehidupan" kita. Minimal pembaca kita adalah istri dan anak-anak kita (bila sudah punya), atau teman, bila Anda masih jomblo. Hidup kita ada dalam sorotan lampu panggung. Orang di sekitar kita melihat bagaimana cara kita hidup, cara kita bicara, berpikir, dan berperilaku. Semakin hebat kita, semakin banyak yang ingin meniru. Di titik tertentu, pengikut kita itu tidak peduli lagi tentang benar dan salah. Yang penting ikut saja. Disinilah bahaya itu muncul. Di titik ini kita harus terus menerus mengevaluasi diri. 
Saat anak kita yang masih di bawah umur mulai santai merokok di depan kita, menantang otoritas, menonton video porno, dengan entengnya memaki-maki dengan kata kotor sambil tertawa, saatnya kita bertanya apakah perilaku kita juga demikian. 
Saat bawahan kita mulai dengan santainya melanggar peraturan, terlambat, keluar masuk kantor seenaknya, merokok di sembarang tempat, buang sampah sembarangan, saat itu kita harus introspeksi, darimana contoh perilaku itu muncul. Jangan-jangan dari kita.
Maka hidup benar itu tidak hanya sebatas saat kita sedang beribadah. Hidup benar harus berlanjut keluar dari tempat ibadah kita masing-masing ke kehidupan sehari-hari. Ingat, hidup kita dibaca dan bisa-bisa ditiru orang lain. Kalau kita sembarangan, jangan-jangan orang lain tergiring jadi sembarangan juga. So... hati-hati menjalani hidup. (dhw)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar