Rabu, Maret 04, 2015

Hai Pemimpin, Menghilanglah!

Begitu banyak ilmu leadership bertebaran. Sampai-sampai semua tips dan trik menjadi pemimpin yang baik, kadang saling bertentangan. Simpang siur. Artikel ini mencoba membahas salah satu mitos yang sering diyakini oleh pemimpin. Mitos ini muncul karena banyak cerita sukses pemimpin yang mengandung resep mitos tersebut. Padahal perlu dikaji dan ‘liat-liat sikon’ dulu sebelum diterapkan dengan teguh. Inilah salah satu mitos itu.

Selalu Ada vs Menghilang

Banyak literatur dan kisah sukses pemimpin menceritakan bahwa sang pemimpin harus selalu ada setiap saat. Ia ada dimana-mana. selalu ada bagi bawahannya. Semakin sering ia muncul semakin hebatlah pemimpin ini.

David Freemantle (2004), menyatakan bahwa memang setiap pemimpin perlu memberi top priority pada orang-orangnya dan menyediakan waktunya buat mereka. Mereka perlu ada pada saat bawahan membutuhkan. Tapi ini tidak berarti pemimpin harus ada secara fisik setiap saat. 

Jika pemimpin ingin memberi kebebasan penuh, menumbuhkan kreativitas, serta memupuk keberanian dalam pengambilan keputusan, pemimpin perlu menghilang dan pergi jauh secara berkala. Saat seorang pemimpin menghilang selama beberapa jam atau beberapa hari dari kantor, efeknya bisa ajaib, lho...

Sinyal Ketidakpercayaan

Hadir setiap saat, bisa memberi sinyal bahwa Anda sedang mengawasi. Anda sedang menunjukkan bahwa Anda tidak mempercayai mereka. Padahal dasar dari hubungan yang hebat adalah trust. Hal itu juga menandakan bahwa Anda kurang mampu mengembangkan bawahan sehingga perlu menunggui mereka, agar pekerjaan mereka beres.

Banyak pemimpin tanpa sadar men-demotivasi bawahan dengan berada setiap waktu di sekeliling bawahannya. Ibaratnya seperti pengawas di penjara yang selalu menyerap energi bawahannya, menimbulkan kecemasan, nervous, dan akhirnya karyawan Anda benar-benar melakukan kesalahan. Dengan berada setiap saat, kadang pemimpin merasa melakukan hal berguna, padahal menghambat pekerjaan bawahan. Misalnya dengan menanyakan informasi tidak relevan, gak penting, dan perlu waktu bagi bawahan untuk mencari jawabannya.

Apakah anda pemimpin yang seperti itu? Cara mengeceknya mudah. Pada jam istirahat, cobalah untuk mendekati kumpulan bawahan Anda. Jika sikap mereka berubah, tadinya tertawa, terus jadi diam gara-gara Anda datang, itu tandanya mereka terintimidasi dengan kehadiran Anda.

Salah satu hak istimewa pemimpin adalah ia punya kebebasan untuk menjauh dan meninggalkan tim untuk bekerja dengan bebas. Kebanyakan orang akan menghela napas lega, merasa lebih santai, lebih liberated, dan kreatif ketika bos tidak ada. 

Jika Anda tidak hadir persis pada saat keputusan harus diambil, ini juga baik. Hal itu akan memaksa tim Anda untuk membuat keputusan. Ini pembelajaran sesungguhnya. Karena ketika Anda hadir selalu ada kecenderungan alami bagi orang untuk merujuk pada keputusan Anda.

Carilah Alasan

Jadi untuk memotivasi tim, Anda perlu mencari alasan untuk absen. Di sinilah kreativitas dan imajinasi anda diuji. Ada ratusan peluang yang dapat Anda pakai untuk menghilang sekaligus meningkatkan kualitas diri Anda. 

Misalnya saja mengikuti program pelatihan level atas, melakukan kunjungan ke kantor-kantor cabang/anak/induk perusahaan, atau mengambil penugasan audit internal. Atau bisa juga acara pribadi seperti pergi cuti rekreasi untuk waktu yang lama. Sekedar duduk di luar kantor (tapi tidak di taman atau di pantai) juga bisa. Ambil waktu juga untuk melakukan kegiatan amal, melakukan mistery shopping/mistery guest ke kompetitor, atau mengambil cuti untuk belajar.

Ketika Anda pergi, penting juga untuk meminta bawahan agar tidak menelepon Anda kecuali dalam keadaan sangat darurat. Pergi berarti Anda berada di luar jangkauan pendengaran, email, dan penglihatan. Anda akan mengalahkan keefektifan seluruh metode pelatihan bawahan lainnya dengan teknik ini.

Pastikan bahwa Anda secara berkala membebaskan diri dari tempat kerja. Rencanakan sekarang, dan lakukan segera. Kalau perlu lakukan besok. (dhw)

3 komentar:

  1. Dear Pak Donny,

    Banyak pemimpin tanpa sadar men-demotivasi bawahan dengan berada setiap waktu di sekeliling bawahannya. Ibaratnya seperti pengawas di penjara yang selalu menyerap energi bawahannya, menimbulkan kecemasan, nervous, dan akhirnya karyawan Anda benar-benar melakukan kesalahan. Dengan berada setiap saat, kadang pemimpin merasa melakukan hal berguna, padahal menghambat pekerjaan bawahan. Misalnya dengan menanyakan informasi tidak relevan, gak penting, dan perlu waktu bagi bawahan untuk mencari jawabannya.

    Saya memiliki atasan seperti yg bapak deskripsikan, dan saya merasa kurang nyaman dalam bekerja. Pekerjaan saya selalu dianggap kurang. Bolehkah saya meminta tips atau saran dari bapak, bagaimana caranya agar saya merasa nyaman bekerja dgn beliau?

    Terima kasih

    BalasHapus
  2. Dear Silvia,

    Thanks atas responnya. Pada dasarnya memang ada hal yang tidak bisa kita kontrol. Salah satunya adalah sikap dan gaya kepemimpinan bos. Saat itulah kedewasaan kita diuji. Tips dari saya, pertama, tetap berusaha lakukan yang terbaik. Tingkatkan kompetensi kita. Usahakan menutup celah-celah dan kebiasaan buruk atau kecerobohan kita. Kedua, bila hal di atas sudah kita lakukan dan kita masih sering diomelin, katakan pada diri kita, "Dia orangnya emang gitu.". Jadi kita gak perlu terlalu luka atau sakit hati amat, kalau kerjaan kita diobrak-abrik dia. Sekali lagi karena dia di luar kontrol kita. Ketiga, ini paling ampuh. Saya sarankan Anda berdoa untuk dia. Anda bawa namanya dalam doa-doa Anda. Maka pasti akan timbul perasaan positif dari Anda kepada dia. Ada belas kasih. Dan itu akan dirasakan olehnya. Keadaan akan berubah. GItu dulu ya. Good luck and tetap semangat.

    Baca juga http://www.donnihw.com/2015/08/mengurus-hal-yang-bisa-diurus.html

    BalasHapus