Kamis, Desember 11, 2014

I won’t sing “Santa Claus is coming to town”

Mungkin banyak orang menganggap rendah efek dari syair sebuah lagu terhadap mentalitas pendengar atau penyanyinya sendiri. Sehingga lagu yang didengar atau dinyanyikan tidak diseleksi lebih dahulu syairnya. Apalagi kalau lagunya berbahasa Inggris. Asal enak didengar langsung dikonsumsi.

Contohnya lagu “Santa Claus is coming to town”. Lagu ini enak dinyanyikan. Nadanya riang. Mungkin rasanya pas kalau dinyanyikan di acara-acara Natalan di gereja. Sebagai selingan gitu. Tapi saya pribadi, kok kurang suka lagu ini dinyanyikan di gereja ya. 

Ini beberapa alasan pribadi saya. Pembaca boleh nggak setuju lho... saya nggak maksa. Cuma pendapat pribadi.

Pertama, tokoh Santa Claus sendiri bukan tokoh Alkitab. Tapi banyak orang sudah mengidentifikasikannya sebagai tokoh Kristen. Saya rasa, ini bisa membuat orang teralih perhatiannya. Perhatian orang Kristen bukan lagi ke bayi kecil di palungan, tapi beralih ke tokoh Bapak tua ini. Kepada orang yang sudah mengawasi kita sepanjang tahun untuk memberikan hadiah atau hukuman. Efeknya, lihat saja mendekati natal, banyak yang lebih sibuk dengan memikirkan atribut-atribut Santa Claus, hadiah, dibandingkan dengan merenungkan kelahiran Yesus.

Kedua, syair ini “You better watch out / You better not cry / You better not pout / I'm telling you why / Santa Claus is coming to town.“ (Kamu harus jaga-jaga / kamu sebaiknya jangan menangis / kamu sebaiknya jangan merengek / saya beri tahu alasannya / karena Santa Claus mau datang ke sini). Sepertinya syair yang bagus, tapi menurut saya, ini sedang menanamkan bibit-bibit pemikiran pada anak-anak, pendengar, dan penyanyi, bahwa perbuatan baik adalah segalanya. Saya rasa, ini akan mengingkari konsep kasih karunia yang khas dalam kekristenan. Kita tahu bahwa kita diselamatkan karena iman bukan perbuatan baik. Pesan Injil adalah tentang kasih karunia. Kita bukan "jadi anak baik" dulu baru dapat hadiah, tapi kita jadi anak baik karena kita sudah dapat hadiah. 
Roma 5:8  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 
Ketiga, syairnya “He's making a list, Checking it twice; Gonna find out who's naughty or nice. Santa Claus is coming to town.” (Dia sedang membuat daftar, mengeceknya dua kali, akan ketahuan siapa yang nakal atau baik. Santa Claus mau datang ke sini). Uhhh.. emangnya ada ya.. yang bisa membuat list yang isinya perbuatan semua orang selain Tuhan.

Keempat, syair “He sees you when you're sleeping. He knows when you're awake. He knows if you've been bad or good. So be good for goodness sake.” (Dia melihatmu saat kau tidur, dia tahu saat kamu bangun. Dia tahu kamu melakukan hal buruk atau baik. Jadi berbuat baiklah demi kebaikan itu sendiri). Wuiihhh... hanya Tuhan yang bisa tahu segalanya. Coba baca Mazmur 139:1-3.  
Maz 139:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; 2  Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. 3  Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
Saya setuju-setuju aja sih, kalau tokoh ini dipakai hanya sebagai simbol. Mungkin simbol dari perhatian orang tua pada anaknya, simbol dari semangat natal yang berintikan memberi, simbol dari memberi kebahagiaan pada orang lain. Tapi saya rasanya nggak akan menyanyikan syair dari lagu ini deh.

Hati-hati dengan anak-anak kita yang bisa-bisa menganggap tokoh ini nyata. Dan berhati-hati dengan prinsip-prinsip yang tanpa sengaja tersampaikan. Hati-hati, jangan-jangan saat menyanyi kita sedang memberhalakan Tuhan. (dhw)