Rabu, November 05, 2014

Yuk Nak... Kita Melanggar

Berkendara menggunakan sepeda motor di Jakarta jauh berbeda dengan tempat asal saya di Jogja. Di Jogja relatif lebih longgar, adem-ayem. Santai. Di Jakarta, jangan tanya. Seperti salah satu pagi yang saya alami ini.

Sudah jam 6.30. Biasanya saya berangkat dari rumah sekitar jam 6. Tapi pagi itu saya agak terlambat start-nya dari rumah. Jalan sudah ramai sekali.

Para pengantar anak sekolah sudah beraksi. Ada bapak-bapak berkaos singlet. Ibu-ibu masih berdaster, memboncengkan anak-anaknya. Banyak juga yang sudah rapi. Sekalian berangkat ke kantor, mungkin. Ada yang memboncengkan dua anak. Bahkan ada yang tiga. Caranya, seorang anak diletakkan di depan, dan dua anak lain berseragam SD dan SMP di belakang. Seru.

Di perempatan lampu merah, lebih seru. Motor-motor berlomba maju ke depan, jauh melebihi garis batas. Bahkan memakan hampir separuh hak jalan dari simpangan lainnya. Akibatnya yang dari arah lain jadi terhalang sedikit, tersendat, bahkan macet, dan terkunci di tengah perempatan. Bila itu terjadi, tiba-tiba seluruh kawasan seputar lampu lalu lintas terserang penyakit buta warna masif. Tidak lagi mampu membedakan warna merah dan hijau. Semua warna adalah hijau. Makin macetlah.

Di pagi hari, selalu banyak ayah yang memboncengkan anaknya. Banyak ibu juga, maklum jam sekolah. Tapi ayah dan ibu itu buat saya tampak sedang bersepakat mengajarkan sesuatu pada anaknya, "Yuk, Nak... kita melanggar!"

Mereka memberikan teladan dan contoh cara melanggar lalu lintas secara efektif pada anaknya. Menerobos lampu merah, tidak memakai helm, boncengan lebih dari seharusnya, melawan arus, memaki sesama pejuang jalanan, bahkan ber-acting seolah akan menabrak dengan cara mengerem sedekat mungkin ke kendaraan yang membuat ia sebal.

Semua kejadian ini ada di depan hidung anak yang mereka bonceng. Inilah kotbah pagi para orang tua. Ini sesi pertama dari pelajaran hidup harian yang sedang mereka ajarkan pada anak-anak mereka.

Lepas dari lampu merah, makin seru saja. Sampailah saya ke area sebuah sekolah terkenal. Mobil-mobil memepetkan diri dengan mendadak ke kiri jalan dari kanan jalan. Menghentikan dirinya dengan mendadak. Ada yang berhentinya benar-benar di pinggir, tapi lebih banyak yang berhenti di jalan agak ke tengah. Mereka menurunkan anaknya. Hmmm... lagi-lagi ajakan melanggar yang hebat.

Lanjut lagi, saya mulai melihat hasil dari pembentukan perilaku tadi. Anak-anak SMA, tanpa helm, melawan arus, ngebut, memutar gas sekeras-kerasnya mencari perhatian umum. Seandainya ada orang tuanya di sana saat itu, mungkin mereka akan mengomeli anaknya.

Mungkin bentakan semacam, 'Ayo pakai helm...!', 'Jangan ngebut, bahaya...!' atau 'Awas jangan melawan arus!',  dan sejenisnya akan terlontar. Tanpa sadar bahwa teladan perilaku itu sudah mereka tanamkan waktu kecil. Sudah diteladankan oleh orang tua. Jadi percuma.

Sebenarnya kalau mau disimpulkan, ada lima tips mendidik anak ditinjau dari para ahli psikologi perilaku (behaviorism). Pertama, harus ada rule (peraturan) yang disepakati bersama. Kedua, harus ada reward (hadiah) bila peraturan itu ditaati. Ketiga, perlu ada punishment (hukuman) bila peraturan itu dilanggar. Reward tidak harus berupa uang, punishment tidak harus berupa pukulan. Redefinisi tentang kedua istilah itu sangat diperlukan. Keempat, perlu ada konsistensi dalam pemberian hadiah dan hukuman. Kelima, perlu ada keteladanan dari si pembuat aturan.

Bagian kelima ini yang menurut saya paling susah. Kalau tidak ingin anak merokok, ya ayah jangan merokok. Kalau tidak ingin anak ketergantungan pornografi, ya ayah jangan koleksi materi pornografi. Kalau ingin anak rajin ibadah, ya ayahnya harus rajin ibadah. Kalau ingin anak kelak tidak melanggar peraturan lalu lintas dan kemudian kecelakaan, ya orang tua jangan melanggar.

Pikiran saya melayang ke rumah. Adakah perilaku buruk anak saya yang saya benci, tapi sebenarnya saya contohkan sendiri ke mereka. Mungkin kamar yang berantakan, mungkin kebiasaan makan tidak di meja makan, mungkin kebiasaan bersendawa sembarangan. Perlu hati-hati nih. Jadi ingat kata bijak, perilaku berbicara keras lebih dari seribu satu omongan. Anak akan meniru apa yang dilakukan orang tua, bukan apa yang dikatakan orang tua. (dhw)