Selasa, Agustus 26, 2014

Ibu Robin, Bidan Bule Gratis

Pernah mendengar nama Robin Lim? Ia adalah warga Amerika peraih penghargaan CNN Heroes tahun 2011. What so special about her?

Panggung CNN Heroes memang selalu menarik perhatian saya. Paling tidak ada tiga alasan. Pertama, karena lembaganya sangat kredibel, jadi siapapun pemenangnya pasti hasil dari seleksi ketat. Kedua, karena levelnya dunia, jadi pemenangnya dan kisahnya otomatis akan mendunia. Ketiga, karena permasalahannya juga selalu menyangkut soal kemanusiaan, lingkungan hidup, perdamaian, dan sejenisnya. Bukan penghargaan hura-hura tentang musik, film atau selebritas lain. Jadi pemenangnya pasti tokoh berbobot dalam hal kemanusiaan tadi.

Tahun 2009, adalah tahun yang membanggakan karena CNN Hero-nya adalah orang Indonesia. Pilot Budi Soehardi yang mendirikan panti asuhan di daerah konflik dan menjadi ayah bagi anak-anak korban kerusuhan di Timor Timur.

Tahun 2011, nama Indonesia kembali disebut. Bukan asal usul tokohnya, melainkan tempat sang tokoh berkarya. Tokohnya sendiri seperti disebut tadi adalah Robin Lim, seorang wanita asal Hawai. Ia berkarya di Bali. Ceritanya demikian.

Tahun 1990, Robin Lim mengalami tragedi dalam keluarganya. Adik yang sangat ia cintai meninggal saat melahirkan, bersama dengan bayinya. Tidak disebutkan apa penyebabnya. Namun, jelas menimbulkan kesedihan mendalam. Saat itu hidupnya terasa hampa. Ia mempertanyakan kembali misi hidupnya. Ia bergumul keras, dan akhirnya mulai menemukan tujuan hidupnya yaitu mencintai sesama. "Jika saya tidak hidup untuk cinta, setiap menit setiap hari, apa gunanya? Dan itu membawa saya pada profesi bidan."

Suatu saat, ketika berada di Bali, ia menemukan fakta bahwa angka kematian ibu saat melahirkan sangat tinggi. Di Bali, ia menemukan bahwa rumah sakit terlalu mahal bagi kebanyakan orang. Banyak orang melahirkan namun tidak mampu membayar rumah sakit. Akhirnya bayi mereka "disita" dan tidak diperkenankan untuk dibawa pulang.

Banyak ibu yang mencoba melahirkan di rumahnya sendiri dengan bidan dan kebersihan seadanya. Maka angka kematian ibu sangat tinggi. Ibu yang meninggal karena pendarahan saat melahirkan hampir-hampir dianggap biasa di sana. Ia tidak tahan dengan kondisi itu. Ia pun memutuskan pindah dari rumahnya di Hawai ke Bali untuk melayani ibu hamil di sana.

Ia mengatakan, "Jika Anda harus membayar untuk perawatan kesehatan, mau tidak mau, masyarakat miskin akan menderita." Maka ia mendirikan sebuah klinik bernama Bumi Sehat. Awalnya ia hanya mampu membantu satu ibu pada suatu waktu. Semua biaya layanan dan obat ia gratiskan. Ia memakai uang tabungannya sendiri.

Lama-kelamaan karyanya terasa, dan mengalirlah dana bantuan. Ia pun mampu menambah tenaga perawat dan bidan. Ia sendiri melayani non-stop. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu. Tetap gratis.
Maka, jadilah klinik Bumi Sehat sebagai solusi bagi orang kurang mampu yang melahirkan.

Semua ibu diperlakukan dengan hormat, penuh kebanggaan, dan dengan kasih. Saat ia diberi penghargaan pada tahun 2011, ia sudah menolong kelahiran lebih dari 4000 bayi. Masyarakat di sana sangat mencintai dan menghormatinya. Ia tidak lagi dianggap orang asing. Orang memanggilnya Ibu Robin.

Ia menyatakan bahwa hampir semua anak yang berlarian di sekitarnya, di kampungnya adalah bayi yang ia bantu kelahirannya. Ia mengenali masing-masing anak itu. Ia yang mengeluarkan anak-anak itu dari perut ibunya. Ia bahkan tahu kisah dan kesulitan para ibu mereka. Dan itu menjadi sesuatu yang bermakna baginya.

"Filosofi saya sangat sederhana. Saya percaya kita bisa membangun dunia yang damai, dengan menyelamatkan satu bayi, satu ibu, satu keluarga pada suatu waktu."

Di kliniknya, ia mampu melakukan perawatan darurat apapun kecuali operasi Cesar. Ia memiliki USG, cairan IV. Dan ia sudah punya transportasi untuk bila perlu mengantarkan pasiennya ke rumah sakit yang lebih besar.

Seorang wanita yang baru ditolongnya menyatakan demikian, "Kami sangat beruntung memiliki klinik seperti ini. Dia melakukan pekerjaan besar bagi rakyat Indonesia di sini. Sungguh menakjubkan. Terima kasih, Robin."

Robin berkata, "Kita tahu, kita tidak bisa menyelesaikan semua masalah. Tapi kita bisa mengambil langkah kecil setiap hari. Kelahiran adalah suatu awal perjuangan heroik seorang ibu. Pada akhir perjalanan itu, ketika ibunya memegang bayi itu, saya bisa menggenggam tangan ibunya dan berkata, 'Anda berhasil'. Dan saya berkata pada diri saya sendiri, I did it.'"

Ia berpesan pada semua orang bahwa setiap napas pertama bayi di bumi bisa menjadi salah satu dari pembawa kedamaian dan cinta. Setiap ibu harus sehat dan kuat. Setiap kelahiran harus aman dan penuh kasih. Tapi kita belum sampai ke sana. Kita harus terus mengupayakannya. (dhw)

Rabu, Agustus 20, 2014

Kesulitan Berbuah Inovasi

Out of adversity comes opportunity. #Benjamin Franklin

Pernah mendengar nama kota Sekayu? Kota ini terletak di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Penduduknya cuma sekitar 561.458 jiwa (sensus 2010). Kabupaten ini kaya akan buah dan sayuran, namun memiliki persoalan yang berkaitan dengan listrik.

Di tengah kesulitan tersebut, tampil dua anak daerah Muhtaza Aziziya Syafiq dan Anjani Rahma Putri, dari SMAN 2 Sekayu. Mereka membuat kulkas penyimpan buah dan sayuran yang tidak menggunakan listrik dan freon. Mereka menamakannya Green Refrigerant Box. Alat ini terbukti mampu mengubah suhu dari 28 derajat celcius menjadi 5,5 derajat celcius, dalam waktu 2 jam 20 menit.

Mau tahu rahasianya? Dikutip dari situs resmi Intel ISEF 2014,

"The alternative solution is using Green Rerigerant Box (GRB) by utilizing gelam wood as activated carbon adsobent and modified vacuum pump as a substitution of electricity. As the first step is designing and assembling GRB using clean cans, hose, copper and plastic box. Then it will be continued with working of system using 300 gram mass of activated carbon adsorbent and 100 ml, 300 ml, 400 ml volume of ethanol."

Hebat, kan? Tidak tanggung-tanggung, mereka meraih dua penghargaan dalam Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2014 yang diselenggarakan di Los Angeles, Amerika Serikat, bulan Mei 2014 kemarin. Penghargaan pertama adalah the Development Focus Award senilai US$10,000 dari the U.S. Agency for International Development (USAID). Yang kedua penghargaan senilai US$ 1,000 di kategori Engineering, Materials, dan Bioengineering.

Jadi, kesulitan geografis bisa menghasilkan kreativitas dan inovasi. Maju terus Anak Indonesia.

BTW... duitnya buat mereka atau nggak ya?