Rabu, Juni 25, 2014

Sindrom Mengejar Kebesaran

Dalam sebuah konseling, seorang anak menyatakan demikian. "Saya punya bakat, saya pintar, tapi banyak orang lebih bagus. Saya takut hidup saya akan selalu kalah dari orang lain. Saya cemas dan tidak bisa berhenti memikirkannya. Saya sampai sulit tidur. Saya memaksa diri untuk belajar sampai larut malam. Tapi hasilnya saya makin stress." (#dhw – konseling)

Pernyataan anak ini, mewakili begitu banyak orang. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun demikian. Berjuta orang mengejar kebesaran diri. Mengalahkan orang lain adalah yang utama. Yang bahaya adalah melakukan segala cara demi kejayaan. Hasilnya ternyata makin stres. Karena lawan yang ditemui makin hari makin banyak. Kemenangan yang dialami tidak menghasilkan kebahagiaan tapi menghasilkan kecemasan berikutnya.

Seorang kolumnis dengan kode nama Coquette di harian The Daily (dalam buku "Unfinished" by Richard Stearns), dengan pahit menulis demikian,
"Habisi ego Anda. Tidak ada hal yang anda raih yang akan sedemikian penting artinya. Hanya dibutuhkan sebuah asteroid sebesar Mall of America untuk membuat seluruh manusia menjadi lapisan fosil berikutnya. Pada skala waktu geologis, kebesaran seseorang hanya setitik kecil. Pengejaran keberhasilan adalah hal yang sia-sia. Kita adalah 7 milyar bintik kecil daging yang bisa bicara dalam sebuah bola lumpur besar yang menggelinding cepat di ruang angkasa dalam jagad raya sangat luas tanpa alasan khusus apa pun."
Sebelum membaca artikel Coquette dengan lengkap, saya setuju dengan tulisannya. Sampai saya menemukan kalimat ".... tanpa alasan khusus apa pun". Saya menjadi sangat tidak setuju. Dan tiba-tiba seluruh kalimatnya menjadi tidak benar buat saya.

Kita bukanlah mahluk tanpa tujuan. Kita lahir dan ada di dunia ini dengan alasan yang khusus. Kita perlu mengetahui alasan khusus itu, dan mengejarnya. Pengejaran kebesaran akan menjadi hal yang sia-sia, saat "kebesaran" itu menjadi sebuah tujuan. Hal yang membuat stres dan frustrasi adalah pengejaran kebesaran tanpa akhir.

J.R.R. Tolkien menciptakan novel Lord of The Rings dengan sangat indah. Ia bukan hanya menciptakan plot cerita. Ia ciptakan dunia tersendiri untuk melatarbelakangi ceritanya. Ia buat Middle Earth. Ia ciptakan dwarf, elf, hobbit, man, tree, orc, dan ia ciptakan juga bahasa mereka masing-masing. Ia ciptakan plot cerita dari awal sampai akhir. Ia tahu semuanya tentang dunia yang ia ciptakan, namun para tokoh tidak. Para tokoh bergulat dengan peran masing-masing sampai happy ending yang dirancang penulis novel tercapai. Kecuali ... tokoh Gandalf. Ia sepertinya tahu peran masing-masing tokoh. Maka dalam kisah itu, ia tampak sebagai tokoh yang tenang, selalu tahu apa yang akan dilakukan, dan anti-stress. Mengapa? Karena ia tahu perannya.

Tuhan memiliki rancangan untuk masing-masing manusia. Ia menetapkan fungsi setiap orang. Singkirkan keinginan untuk menjadi paling hebat dan menonjol. Kejarlah rancanganNya. Ketahuilah peran Anda dalam rancangan besar dari langit. Temukan kebahagiaan dalam bakat Anda. Nikmati kemampuan yang Anda miliki. Gunakan untuk membuat Tuhan, anda sendiri, dan orang lain bahagia. Ini salah satu tips menghilangkan Stress. Cobalah menikmati jalan Tuhan, stres anda akan menghilang. (dhw)

Kamis, Juni 19, 2014

Amygdala dan Pilpres

Lo jual gua beli. Lo komen gue lempar. Lo senggol gua bacok. 

Waduh waduh apa ini. Kejadian ini mungkin pernah terjadi pada kita. Respon reaktif yang langsung kita lakukan saat kita menemui sesuatu yang bikin nggak asyik.

Suasana pemilu presiden kali ini memang makin lama makin panas. Kedua pendukung fanatik sudah tidak tergoyahkan lagi tampaknya. Jadi usaha apapun untuk mengubah pilihan sebenarnya sedikit sekali pengaruhnya. Bahkan kalau boleh dibilang udah nggak ngaruh.

Yang menarik adalah mengkaji bagaimana reaksi emosi masing-masing pendukung terhadap "lawannya". Reaksi emosi akan berakibat pada respon perilaku. Ini yang gawat. Banyak terdengar pertemanan yang putus, pertengkaran suami-istri, caci maki di media sosial yang terjadi gara-gara proses pemilu kali ini.

Kok kita bisa seperti ini, melakukan sesuatu dengan cepat yang bisa jadi akan kita sesali sesudahnya. Hmm… ternyata ini ada hubungannya sama kecerdasan emosi. Kali ini coba kita tinjau dari sisi cara kerja otak. 

Inilah yang sebenarnya terjadi, ada pembajakan amygdala. Biasa disebut dengan istilah Amygdala hijack. Hah... apa lagi ini? Bajak membajak kan cuma terjadi di dunia IT, di laut, di pesawat atau di sawah? Eh.. ternyata pembajakan juga terjadi di otak kita.

Nah.. biar jelas, sebelumnya kita mesti tahu dulu bagaimana cara kerja sederhana dari otak kita. Otak memiliki jalur lalu lintas informasi. Bila lalu lintas itu melalui jalur yang benar, maka respon yang kita keluarkan menjadi tepat. 

Beginilah jalur yang seharusnya dilalui. Informasi yang masuk, selalu mampir ke bagian otak kita yang bernama thalamus lebih dulu. Thalamus adalah bagian kecil otak yang berfungsi seperti polisi lalu lintas yang akan mengarahkan informasi tersebut ke berbagai bagian otak. Secara sederhana, dalam konteks ini, otak bisa dibagi jadi tiga bagian. Bagian otak motorik (lymbic), otak emosi (amygdala), dan otak berpikir (neocortex).Waktu stimulus masuk, thalamus akan mengarahkannya ke amygdala. Amygdala ini merupakan bagian otak yang berfungsi untuk mengelola emosi. Setelah informasi ditafsirkan di amygdala, informasi seharusnya diarahkan ke neocortex. Ini biasa secara awam dibagi lagi menjadi otak kanan dan kiri. Setelah diproses di sini, keluarlah perintah untuk bertindak ke otak motorik. Ini jalur yang benar. Jalur ini yang dapat membuat kita memberi respon yang sudah dipikir. Respon ini sudah diolah dan dikontrol. Ini yang disebut cerdas emosi.

Sayangnya, jalur ini tidak selalu dipatuhi. Ada kalanya suatu informasi yang datang kepada kita, dibajak oleh amygdala sendiri. Ia tidak "melaporkan" informasi itu ke neocortex, tapi langsung memerintahkannya ke limbik, akibatnya kita langsung ber-reaksi tanpa dipikir.

Contoh: waktu kita di facebook melihat informasi yang dianggap menghina capres idaman kita. Dan itu di-upload teman kita, langsung saja oleh amygdala tidak dikirim ke neocortex tapi ke limbik. Amygdala akan berkata, "Kurang ajar dia!! Aku pikir dia pintar!! Ternyata dia milih si Dia!!" Tanpa mempertimbangkan hubungan pertemanan yang sudah lama, amygdala bertindak dengan memerintahkan motorik kita untuk menekan "Unfriend" atau "Unfollow". Putuslah hubungan di media sosial. Bukan hanya itu, bahkan kita mencaci maki balik. Menciptakan berbagai alasan di benak kita, yang intinya dia salah dan bodoh, aku benar dan pintar. Akhirnya benar-benar putuslah hubungan pertemanan.

Inilah yang disebut reaktif. Kondisi ini biasa disebut amygdala hijack. Tidak heran banyak hal yang kelak disesali saat emosi sudah mereda, dan konsekuensinya berbicara.

Bagaimana cara agar amygdala kita tidak bisa melakukan pembajakan informasi? Simple. Cukup berdiam selama 6 detik. Enam detik "pause" ini akan membuat oksigen membanjiri otak kita. Secara alamiah, informasi tadi akan mengalir ke neocortex. Informasi yang memancing amarah sebesar apapun akan kembali melalui jalur yang benar. Hingga kitapun tetap bisa memberikan respon yang tepat. Kalau itu respon marah, marahnya adalah marah yang terkontrol. Respon apapun yang kita beri, adalah respon dari hasil berpikir. 

Jadi sekali lagi saya tekankan, bukan kita gak boleh marah, tapi misalnya harus marah, marahlah dalam kondisi terkontrol. Selamat ber-respon secara bertanggungjawab. Respon yang benar itu nomor satu ... (dhw)

Rabu, Juni 18, 2014

Ekspresi Oprah

Pernahkah Anda penasaran, seperti apa sih tampang anda sendiri kalau lagi marah? Seperti apa wajah Anda kalau senang? Apakah kalau lagi nggak punya uang, kelihatan dari wajah Anda? Apakah ekspresi wajah Anda bisa menggambarkan emosi Anda dengan tepat? Menyadari ekspresi emosi kita ternyata sangatlah penting.

Dalam konteks mempengaruhi orang, ternyata "tepat ekspresi" adalah salah satu ciri orang cerdas emosi. Orang yang EQ nya tinggi adalah orang yang mampu mengekspresikan dirinya dengan baik. Seluruh tubuhnya mendukung emosinya. Dan, terbukti lebih lanjut bahwa, orang-orang semacam inilah yang mampu mempengaruhi orang lain dengan kata-katanya. Inilah pemimpin yang mampu menggerakkan orang lain.

Kita bisa menyebut Bung Karno sebagai contoh. Saat ia berbicara, seluruh tubuhnya mengekspresikan apa yang ia ingin ucapkan. Intonasinya, wajahnya, tudingan jarinya, dan lain-lain. Saat ia berbicara dengan "bonus" ekspresi emosi, pembicaraan itu jadi meningkat berkali-kali lipat kualitasnya.

Oprah winfrey adalah sebuah contoh lain. Ia disebut sebagai presenter terbaik saat ini. Salah satu kekuatannya adalah ekspresi emosinya. Interview yang ia lakukan, adalah contoh-contoh interview terbaik yang pernah saya temukan. Interviewnya sangat menggali data, tanpa perlu banyak kata. Perkataannya kadang singkat, namun tatapan mata, ekspresi wajah, pemilihan katanya sangat tepat. Kadang ia hanya memajukan tubuhnya, menatap tajam, dan bertanya dengan intonasi yang curious, "What happened?" Dan seorang ibu yang membunuh anaknya sendiri dengan cara memasukkannya ke dalam kulkas, bisa bercerita panjang lebar kepadanya.

Yang menarik, dalam salah satu segmen acaranya, yaitu book clubs, ia selalu merekomendasi sebuah buku. Buku yang ia rekomendasi dalam acaranya, selalu saja melejit penjualannya hingga 400% dibandingkan dengan sebelum ia rekomendasi. Ia menjelaskan isi buku yang ia rekomendasikan dengan sangat baik, penuh ekspresi emosi. Orang jadi ingin membacanya. Ia menjadi pribadi yang mempengaruhi orang lain. Ia melakukan "emotional selling".

Jika anda seorang leader, sadari pentingnya menyadari ekspresi emosi. Ekspresikan diri Anda dengan tepat --bukan asal-asalan. Di situ mungkin terletak kekuatan Anda dalam mempengaruhi orang lain. (dhw)