Senin, Januari 27, 2014

Ayo Berani Gagal

Semua orang pasti pernah gagal, tapi sayangnya tidak semua orang siap gagal. Ahmad Dhani, Anang, dan Titi DJ, terhenyak. Daniel Mananta, sang pembawa acara audisi Indonesian Idol melangkah masuk ke ruang Audisi. Daniel menceritakan bahwa ia di-complain ibu dari seorang kontestan yang memprotes anaknya yang tidak lolos. Ibu itu ingin protes dan menemui para juri.
Hidup itu isinya lomba. Kadang menang, kadang kalah, kadang harus mengalah. Sayangnya banyak orang tidak mempersiapkan diri untuk kalah. Lihat saja di pertandingan sepakbola. Khususnya di Indonesia. Perhatikan suporter yang timnya kalah. Minimal mereka akan merasa timnya diperlakukan tidak adil. Sudah untung kalau suporter jenis ini tidak merusak stadion atau melempari pemain lawan. Lihat juga, pilkada kita. Jarang sekali, calon yang kalah mengakui kekalahannya. Daftarnya bisa lebih panjang, kasus pemilihan ketua partai, menyerobot lampu merah, antrian, sampai ke tidak terima di hasil audisi idol-idolan yang tadi disebut.
Dari mana semua ini berasal? Kemungkinan besar, pola asuh orang tua adalah salah satu kontributornya. Diana Blumberg Baumrind, menemukan bahwa pola asuh yang ditampilkan orangtua memiliki korelasi dengan perilaku anak. Orangtua jaman sekarang adalah orang tua yang sangat menganjurkan anaknya untuk berkompetisi. Anak harus menang. Di SMA, anak harus masuk jurusan IPA, anak harus juara, les sana-sini, demi kemenangan. Anak juga sering memperoleh pujian dan dimanja secara berlebihan, “Anak Papa memang paling pintar se-dunia.”
Perilaku orang tua pun demikian. Tidak mau kalah. Padahal Albert Bandura, pencetus teori belajar sosial, menjelaskan bahwa anak melakukan proses modelling dan imitasi, yaitu pengambilan nilai-nilai atau perilaku dari seorang model. Seorang ayah yang sering memaki saat marah, kemungkinan akan memiliki anak yang sering memaki juga. Orangtua yang menganggap kegagalan adalah tabu, akan memiliki anak yang sama. Orang tua yang jarang meminta maaf, juga menjadi contoh yang buruk. Acara-acara debat di televisi memperparah keadaan dengan mengkomunikasikan bahwa "salah-benar" yang penting ngotot.
Orang tua perlu mengajari anak untuk menghadapi kegagalan. Jangan berikan apapun yang diingini anak. Berikan syarat bila anak ingin mendapat sesuatu. Bila syarat tidak terpenuhi, tabahkan hati Anda untuk tetap tidak memberikannya. Kegagalan juga adalah sesuatu yang harus dipelajari.
Billi Lim adalah contoh seseorang yang sepanjang hidupnya selalu gagal. Ia gagal dalam dunia multi-level marketing, asuransi, supermarket, bisnis retail, marketing respon TV, serta iklan TV. Ia juga politisi yang dua kali gagal dalam pemilihan. Akhirnya, dia menemukan bahwa cerita-cerita kegagalannya sangat menarik dan menginspirasi. Dia kumpulkan cerita kegagalannya. Dia tulis buku "Dare to Fail" dan langsung menjadi best seller. Saat ini, ia adalah pembicara, pelatih, dan konsultan bisnis yang sangat dicari. Ia mampu membuat pendengarnya tertawa keras saat dia menyampaikan motivasinya yang menyentuh hati dan mengubah pola pikir pendengarnya. Ia menginspirasi seluruh pendengar dengan menggabungkan akal sehat,tawa, dan menghembuskan kehidupan ke dalam setiap topik pembicaraannya. Dia berkata, "Kegagalan memang menyakitkan. Tapi kegagalan mengajarkan pada kita rasa malu, hati-hati dalam bertindak, sabar, belas kasihan, dan kerendahan hati."
Di Napple, New York ada museum unik, namanya International Supermarket and Museum. Di sini disimpan tak kurang dari 60.000 jenis barang konsumen yang pernah gagal. Sebagai pembanding, dipajang juga produk-produk yang sukses. Hanya ada 15.000.
Motorola memiliki sebuah museum di Schaumburg, Illinois. Di situ dipajang juga produk-produk inovatif yang gagal. Ada macam-macam. Dan semua itu dipasang untuk pelajaran bagi generasi penerus untuk dipelajari.
Ada sebuah museum lagi di Michigan. Selama 30 tahun, dikumpulkan produk-produk yang sudah diciptakan dan gagal. Ada 110.000 barang. Dan hebatnya, tiket masuk museum ini tidaklah murah. Untuk masuk diperlukan $5000 (Rp. 50 jutaan). Itu tarif untuk 1 grup selama seminggu meneliti di museum itu. Dan museum ini laku keras, sampai-sampai pengunjung yang kebanyakan utusan dari perusahaan-perusahaan besar, dibatasi hanya maksimal 3 grup seminggu.
Kegagalan itu perlu. Kegagalan harus diingat, bukan dilupakan, untuk dipelajari. Para motivator, jangan hanya menggembar-gemborkan kesuksesan. Kegagalan juga sesuatu yang perlu dikampanyekan. Para orang tua, anak kita perlu mengetahui bahwa dunia tidak seindah dongeng Walt Disney. Semua itu perlu agar saat gagal, anak kita mampu bangkit. Sebuah pepatah Jepang berkata, “Fall seven times, stand up eight.” Jatuh tujuh kali? Tidak apa-apa, berdirilah di kesempatan ke delapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar