Selasa, Desember 11, 2012

Baik Menurut Siapa?


Rom 12:2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Apa yang oleh seseorang dianggap baik, belum tentu dianggap baik oleh orang lain. 
Steven Covey pernah bilang manusia melihat dunia sebagaimana diri mereka, bukan sebagaimana adanya. Mereka menerima, mengerti, dan menafsirkan dunia sekeliling sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman mereka. 
Ada sekumpulan skema di otak yang berasal dari pengetahuan dan pengalaman yang membuat kita bisa berbeda dengan orang lain dalam menafsirkan sesuatu.
Saya pernah dapat kesempatan melakukan training di sebuah perusahaan tambang di Kalimantan Selatan. Ada yang unik di sana. Pulang dari lokasi, kami sempat jalan-jalan sebentar di kota Banjarmasin sebelum pulang ke Jogja. 
Di sana banyak berseliweran mobil-mobil bagus, mewah, tapi kotor banget. Banyak tanahnya dan tampak gak dibersihkan. Salah satu teman bertanya ke driver kami yang orang lokal, "Pak, banyak banget sih mobil yang kotor disini, jorok banget, gak dicuci, banyak tanah-tanahnya."
Eh.. sang driver menjawab, "Wah itu sengaja mas, di sini makin kotor mobilnya, makin keren. Kotor itu artinya pasti mobil pekerja tambang yang kaya raya. Kalo kinclong, bersih itu artinya karyawan perusahaan biasa."
See... beda banget sama di Jawa, kan? Kalau di Jawa, mobil kinclong yang keren, mobil kotor berarti pengemudinya males. Itu namanya perbedaan interpretasi yang dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman. Di setiap daerah bisa berbeda, pada setiap orang bisa berbeda.
Nah, itu kita bicara tentang perbedaan antara orang di suatu tempat dengan tempat lain. Belum lagi kalau kita bicara tentang perbedaan pandangan manusia dengan Tuhan. Pasti beda banget. Bahkan ada tertulis, di kitab Yesaya 55:8 "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN".
So.. jelas apa yang kita anggap baik belum tentu dianggap baik oleh Tuhan. Makanya di Roma 12:2 kita diminta untuk membedakan mana kehendak Allah yang baik, berkenan, dan sempurna. Yang baik itu belum tentu berkenan, dan yang berkenan itu belum tentu sempurna. Susah kan?
Tapi nggak susah buat orang yang punya hubungan dekat dengan Tuhan. Saya tahu keinginan istri saya karena saya dekat dengan dia. Tapi, saya jelas nggak tahu keinginan Pak SBY misalnya, karena saya nggak dekat dengan dia, bahkan gak kenal. Maka, kalau kita dekat dengan Tuhan, pasti kita juga tahu keinginan Tuhan.

MBTI tahu dan cabe


MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) adalah salah satu alat tes kepribadian yang mengukur kecenderungan perilaku seseorang. MBTI membagi manusia berdasar empat kutub dimensi yang masing-masing dibagi dua dan dilambangkan  oleh 1 huruf. 

Kutub pertama adalah kutub energi (darimana seseorang mendapat energi). Ada orang Ekstrovert (E) yang mendapat energi dari luar dirinya, dan Introvert (I) yang mendapat energi dari dalam dirinya. Ciri singkatnya: orang E akan suka jika kumpul-kumpul dengan orang banyak. Orang I suka kesendirian. Contohnya: kalau orang E pulang kantor capek, dia akan pergi jalan-jalan dulu ketemu orang banyak biar bisa ngisi energinya. Tapi orang I pulang kantor, capek dia akan langsung pulang, masuk kamar, dengerin musik atau baca buku.

Kutub kedua adalah kutub informasi (darimana seseorang mendapat informasi). Ada orang Sensing (S) yang informasinya diambil dari pancainderanya, dan iNtuition (N) yang informasinya dari intuisi. Ciri gampangnya: orang S suka data, fakta yang terlihat dan memikirkan apa yang ada di hadapannya. Orang N suka akan konsep dan memikirkan masa depan.

Kutub ketiga adalah kutub pengambilan keputusan. Ada orang Thinking (T) yang mengambil keputusan berdasar logika, dan orang Feeling (F) yang mengambil keputusan berdasar perasaan. 

Kutub keempat adalah kutub gaya hidup. Ada orang Judging (J) yang gaya hidupnya teratur, terencana, dan orang Perceiving (P) yang gaya hidupnya fleksibel dan spontan. 

Supaya mudah memahami ada contoh sederhana tentang seseorang yang mau makan tahu dan cabe.

Orang I: diam-diam abis 10 tahu, 10 cabe.
Orang E: cerita-cerita dulu ke orang banyak, kalo lagi mau makan tahu sama cabe.

Orang S: makan dulu tahu sama cabenya sampe kenyang, masalah bayarnya belakangan.
Orang N: tahu jangan dimakan sekarang, ditawarin orang dulu siapa tau ada yg beli. cabenya ditanam, bisa jadi perkebunan cabe.

Orang T: 1 tahu harus dimakan sama 1 cabe supaya seimbang.
Orang F: tergantung, kalo cabenya gak pedes 1 tahu, 3 cabe.

Orang J: siapin dulu tahunya, cabenya, air minum yang pas, diatur yang rapi, baru dimakan.
Orang P: abis makan tahu, baru cari cabe. Gak dapet cabe ya tambah aja tahunya.