Kamis, Maret 11, 2010

Penerapan Logoterapi dalam Kasus PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)

Kasus di bawah ini diambil dari jurnal yang berjudul Using Frankl's Concepts with PTSD Clients oleh Jim Lantz.

1. Pemaparan Kasus

Betty mengalami mimpi buruk dan kilasan memori yang menakutkan sampai membuat dia menangis histeris, mengalami gangguan tidur, dan problem seksual. Hal-hal buruk ini dimulai segera setelah anak tertuanya berumur tujuh tahun.

Kilasan memorinya adalah tentang seorang lelaki dewasa yang melakukan hal buruk kepadanya. Betty mulai terbiasa minum minuman keras di malam hari dengan alasan supaya bisa tidur. Betty mulai tidak melakukan kewajiban-kewajiban rumah tangganya. Betty merasa selalu lelah dan tidak mau diajak berhubungan intim oleh suaminya. Betty malas berangkat kerja dan tidak lagi menikmati pekerjaannya.

2. Intervensi

Betty diberi tes PIL (Purpose in Life Test) yang dibuat oleh Crumbaugh and Maholick dan mendapat skor 86. Pada PIL test, skor kurang dari 92, berarti mengalami kekosongan eksistensi diri. Skor antara 93 dan 111, berarti subjek rentan terhadap kehilangan eksistensi. Skor lebih dari 112, berarti memiliki makna hidup dan tujuan hidup yang baik.

Logoterapis memberikan terapi pada Betty sejak 1984 sampai 1987. Melalui proses terapi, Betty diminta untuk mengingat dengan detail kejadian di masa kecilnya sebagai penerapan teknik intensi paradoks.

Betty dapat mengingat bahwa waktu dia berumur tujuh tahun (usia yang sama dengan anaknya ketika Betty mulai mengalami flashback ini), laki-laki yang tinggal di sebelah rumahnya sering meraba-raba Betty dan memaksa untuk melakukan oral sex, bahkan mengambil foto-foto mereka. Betty ingat bahwa laki-laki itu mengancam akan membunuh kedua orang tuanya bila Betty melaporkan perbuatan itu. Laki-laki itu sering membunuh binatang kecil di hadapan Betty untuk menunjukkan hal itu yang akan dilakukan pada orang tua Betty.

Betty juga diintimidasi dengan cara diberitahu laki-laki itu bahwa laki-laki itu melakukan segalanya karena kesalahan Betty. Menurut laki-laki itu, Betty yang menyebabkan laki-laki itu terangsang. Betty lah yang jahat dan kotor, karena membuat laki-laki itu berbuat dosa. Hal ini membuat Betty mengalami kevakuman eksistensial.

Betty dapat mengingat, pada umur delapan tahun dia menceritakan kejadian itu kepada orang tuanya, setelah laki-laki itu pindah dari sebelah rumahnya. Orang tuanya segera membawa Betty ke dokter, dan dokter berkata, "Tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada orang yang berbuat apa-apa kepada Betty." Semua kejadian dianggap hanya khayalan Betty.

Betty, suaminya, dan terapis percaya bahwa sangat penting untuk mengingat itu semua dan menceritakan pada orang lain tentang hal itu. Bagi Betty sangat penting untuk pergi ke polisi dan melaporkan kejadian yang sudah terjadi 19 tahun yang lalu. Penting juga bagi Betty untuk berbicara pada orang tuanya dan bertanya, "Mengapa waktu itu kalian tidak berbuat apa-apa?", dan menemukan bahwa orang tuanya memang saat itu tidak tahu harus melakukan apa, karena dokter hanya menyuruh mereka untuk mengabaikan hal itu dan anak ini akan melupakannya cepat atau lambat.

Bagi Betty sangat penting juga ketika mereka melakukan, upacara pernikahan ulang. Betty mengatakan bahwa dia berhenti merasa kotor setelah John 'membuktikan' bahwa dia tetap ingin menikahi Betty, setelah dia tahu apa yang terjadi pada Betty. Kehidupan seks mereka pun secara dramatis membaik setelah perkawinan ulang itu.

Elemen terakhir dalam terapi Betty, adalah penemuan bahwa Betty ternyata menjadi pendengar yang sangat baik bagi orang-orang yang mengalami perkosaan dan pelecehan. Dia menjadi relawan pada crisis center setempat dan menjadi ahli dalam bidang trauma dan teror. Bagi Betty, kerja relawannya adalah pemberian makna bahwa apa yang sudah terjadi dalam hidupnya berguna untuk membantu orang lain. Sehingga tidak lagi menjadi trauma.

3. Hasil

Pada tahap terminasi (1987), skor PIL Betty adalah 124. Dua tahun kemudian dievaluasi kembali dan skornya menjadi 127. Betty melaporkan bahwa tidak ada lagi depresi, masalah seksual, dan dia sudah benar-benar merasa nyaman dan bahagia.

4. Analisa Kasus berdasarkan Teori Logoterapi

Logoterapi bagi klien PTSD, mengharuskan klien untuk mengingat pengalaman traumatis secara detail, mengindentifikasi makna yang tersembunyi dalam trauma dan teror. Tujuan dari logoterapi ini adalah membuat korban trauma itu mengubah rasa bersalah karena masih hidup (survivor's guilt) dan menumbuhkan kesadaran akan makna bahwa pengalamannya itu berharga untuk diberikan kepada dunia.

Teknik Logoterapi yang diterapkan:

a. Paradoxical Intention

Betty diminta untuk mengingat dengan detail kejadian di masa kecilnya. Betty berhasil mengingat, pada waktu dia berumur tujuh tahun, laki-laki yang tinggal di sebelah rumahnya:

  • sering meraba-raba,
  • memaksa untuk melakukan oral sex,
  • mengambil foto-foto mereka,
  • mengancam akan membunuh kedua orang tuanya bila Betty melaporkan perbuatan itu,
  • membunuh binatang kecil di hadapan Betty untuk menunjukkan hal itu yang akan dilakukan pada orang tua Betty.

b. Identifikasi Proses Kehilangan Makna

Laki-laki itu memberitahu Betty, bahwa segalanya terjadi karena kesalahan Betty. Betty lah yang jahat dan kotor, karena membuat laki-laki itu terangsang dan berbuat dosa. Betty dapat mengingat, pada umur delapan tahun setelah laki-laki itu pindah, dia mengadu ke orang tuanya. Orang tuanya segera membawa Betty ke dokter, dan dokter berkata, "Tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada orang yang berbuat apa-apa kepada Betty." Semua dianggap hanya khayalan Betty.

c. Proses menghilangkan kevakuman eksistensi

Betty mengingat itu semua dan menceritakan pada orang lain tentang hal itu. Betty pergi ke polisi dan melaporkan kejadian yang sudah terjadi 19 tahun yang lalu. Betty untuk berbicara pada orang tuanya dan bertanya, "Mengapa waktu itu kalian tidak berbuat apa-apa?", dan menemukan bahwa orang tuanya memang saat itu tidak tahu harus melakukan apa, karena dokter hanya menyuruh mereka untuk mengabaikan hal itu dan anak ini akan melupakannya cepat atau lambat. Betty melakukan, upacara pernikahan ulang. Betty mengatakan bahwa dia berhenti 'merasa kotor' setelah John 'membuktikan' bahwa dia tetap ingin menikahi Betty, setelah dia tahu apa yang terjadi pada Betty.

d. Derefleksi

Betty ternyata menjadi pendengar yang sangat baik bagi orang-orang yang mengalami perkosaan dan pelecehan. Dia menjadi relawan pada crisis center setempat dan menjadi ahli dalam bidang trauma dan teror.

e. Medical Ministry

Bagi Betty, kerja relawannya adalah pemberian makna bahwa apa yang sudah terjadi dalam hidupnya berguna untuk membantu orang lain. Sehingga tidak lagi menjadi trauma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar