Senin, Maret 15, 2010

Movie Analysis: The Last Samurai

Beberapa waktu lalu, saya mencoba menganalisis kepemimpinan yang ada di film the Last Samurai. Ini sebagian hasilnya. Ada 4 pertanyaan yang saya ajukan, who, whom, why, dan how. Banyak sekali yang bisa digali, ini sebagian kecil saja. Semoga pelajaran kepemimpinan ini bisa bermanfaat buat pembaca.

a. Who?

Dari sekian banyak pemimpin yang muncul dalam film ini, saya tertarik pada tokoh Kaisar. Kaisar inilah yang sebenarnya dapat mengendalikan seluruh cerita bahkan mengubah alur cerita bila dia melakukan fungsinya. Walaupun hanya muncul dalam beberapa adegan, namun sangat jelas diceritakan bagaimana pergumulan batin yang terjadi dalam diri Kaisar.

b. Whom?

Kaisar memerintah seluruh Jepang. Apa pun yang diputuskan Kaisar akan mempengaruhi hidup orang di seluruh Jepang.

c. How?

Kaisar dikelilingi oleh banyak penasehat. Dua penasehat yang menonjol adalah Omura dan Katsumoto. Omura adalah tokoh yang menganjurkan modernisasi dan memusuhi segala yang tradisional, karena memiliki kepentingan perdagangan senjata dengan pihak barat. Katsumoto adalah tokoh yang mempertahankan tradisionalisme.

Di antara kedua kutub ini, pada awal cerita, Kaisar memilih untuk mengikuti jalan Omura. Modernisasi dianggap sebagai cara untuk memajukan Jepang. Namun keputusan Kaisar untuk mengikuti modernisasi, adalah bukan keputusan Kaisar secara bulat. Kaisar takut untuk mengambil keputusan memihak para tradisionalisme karena tekanan dari pihak modernisasi. Kaisar sebenarnya mengingini jalan tengah. Seperti yang dikatakannya pada akhir cerita, kira-kira sebagai berikut:

  • "I dreamed of a unified Japan. Of a country strong and independent and modern. And now we have railroads and cannon and Western clothing. But we cannot forget who we are. Or where we come from."

Namun Kaisar mencari cara aman dalam melakukan kepemimpinannya. Dia tidak mau mengambil keputusan, yang sebenarnya sesuai dengan hati nuraninya. Kaisar sebenarnya sudah tahu keputusan apa yang seharusnya diambil, namun tidak mampu menahan tekanan dari penasehatnya Omura. Dengan kata lain, kepemimpinannya hanyalah disetir oleh Omura. Kaisar menyetujui saja, apa pun yang dianjurkan oleh Omura, tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya terhadap seluruh rakyat. Kepemimpinannya hanya berupa posisi, namun tidak berfungsi. Dapat dikatakan bahwa kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang gagal.

d. Why?

Kaisar di Jepang, begitu diagungkan sebagai wakil dari dewa. Kaisar berada di istana dan tidak pernah berkesempatan untuk meninjau keadaan negerinya. Ia hanya mendengar laporan dari penasehat-penasehatnya. Ini membuat Kaisar tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya di bawah. Ini akan membuat keputusan-keputusan yang diambil selanjutnya semakin salah. Pelajaran yang saya dapat, seorang pemimpin yang baik, seharusnya juga turun ke lapangan untuk meninjau sendiri keadaan sesuatu yang dipimpinnya. Dengan turun dan melihat langsung, pemimpin dapat langsung mengevaluasi keputusan-keputusannya maupun pelaksanaan dari keputusannya apabila ada yang tidak cocok dengan pikiran dari pemimpin.

Kaisar kurang menggunakan otoritasnya sebagai pengambil keputusan tertinggi. Dia sedikit banyak tahu bahwa tindakan yang dilakukan Omura terlalu berlebihan, namun tidak berdaya untuk mencegahnya. Pelajaran yang saya dapat, pemimpin harus berani bertindak tegas terhadap bawahan yang tidak menjalankan tugas dengan baik.

Kaisar kurang menyadari bahwa apa pun yang dia putuskan akan berakibat pada seluruh negeri. Dalam film ini, keputusannya dalam hal membiarkan Omura memegang kendali, akhirnya menyebabkan pembantaian dari seluruh Samurai yang ada dan semuanya mati, kecuali Algren (sehingga disebut The Last Samurai).

Pelajaran yang saya dapat, seorang pemimpin harus memikirkan baik-baik akibat dari keputusan yang dia keluarkan. Semakin tinggi lingkup pemimpin itu, semakin banyak orang yang harus menanggung akibat dari keputusan yang dia keluarkan.

Kaisar akhirnya mengambil keputusan yang benar dengan menyingkirkan Omura dari jajaran penasehatnya dan membatalkan pembelian senjata dari Ambasaddor Swanbeck, namun keputusan itu terlambat. Keputusan yang terlambat, walaupun benar, akan terlanjur mengakibatkan banyak kerusakan.

Pelajaran lain yang saya dapat, pemimpin disamping harus mengambil keputusan yang tepat, juga harus mengambil keputusan pada saat yang tepat. Bila terlambat atau terlalu cepat maka akan menyebabkan kerusakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar