Selasa, Maret 16, 2010

Review Buku: Leadership Challenge (Kouzes & Posner)

Buku ini bagus banget. Dimulai dari pertanyaan, apakah leader itu memang terlahir leader, atau leader dapat diciptakan? Apakah leader itu semacam orang yang dari sononya 'the choosen one' atau setiap orang mampu menjadi pemimpin yang baik jika mau belajar? Buku ini percaya bahwa setiap orang dapat dilatih menjadi pemimpin.

Ada lima Ciri kepemimpinan:

1. Challenging the Process.

  • Pemimpin selalu mengevaluasi proses yang sudah dilakukan.
  • Pemimpin selalu mencari alternatif untuk mengubah status quo.
  • Ia berani mencoba-coba dan mengambil risiko, dan bersedia menerima kegagalan dan kekecewaan sebagai bagian dari proses belajar.

2. Inspiring a Shared Vision

  • Pemimpin selalu membagikan visinya.
  • Pemimpin melihat masa depan.
  • Ia menyertakan orang lain dalam mimpinya, dan membuat orang lain bergairah melihat kemungkinan-kemungkinan di masa depan.

3. Enabling Others to Act

  • Pemimpin selalu memampukan orang lain untuk bertindak.
  • Ia mengembangkan kolaborasi dan membangun tim, memperkuat orang lain dengan cara membagi informasi, memberikan pilihan-pilihan.
  • Ia berani mendelegasikan kekuasaannya sehingga membuat setiap orang merasa mampu dan memiliki kuasa.

4. Modelling the Way

  • Pemimpin selalu menjadi model.
  • Ia membuat standar dan memberikan contoh dalam menjalani standar itu.

5. Encouraging the Heart

  • Pemimpin selalu membesarkan hati.
  • Ia mampu mengenali kontribusi orang lain dalam mencapai puncak, merayakan keberhasilan, dan mampu membuat setiap orang merasa seperti pahlawan.

Ada 3 cara belajar untuk menjadi pemimpin yang baik:

1. Trial and error

  • Learning by doing adalah cara belajar paling efektif. Calon pemimpin harus berani mencari tugas yang semakin bervariasi untuk meningkatkan visibilitas, bekerja dengan bermacam orang untuk meningkatkan pengalaman, dan belajar menghadapi kesulitan dan krisis akan melatih timbulnya self-insight.

2. Observation of others

  • Setiap calon pemimpin perlu memiliki:
  1. mentor: memberikan pengenalan dan menunjukkan arah yang benar
  2. sesama teman: berguna untuk memberi feedback yang jujur dan memberi nasehat
  3. orang luar yang menjadi model, misalnya tokoh sejarah
  4. manager langsung: manager yang baik akan membantu mempercepat kemajuan. Manager yang buruk akan menciptakan stres dalam kerja.

  • Menurut saya, calon pemimpin yang memiliki manager yang buruk lebih beruntung daripada yang memiliki manager yang baik. Contoh yang baik dapat dilihat dari berbagai sumber. Namun dengan memiliki manager yang buruk, calon pemimpin dapat sungguh-sungguh belajar dan merasakan akibat dari kepemimpinan yang buruk, sehingga dia tidak akan melakukannya kelak saat sudah menjadi pemimpin.

3. Education: training kepemimpinan.

  • Peter Drucker, mengatakan bahwa sumber daya ekonomi yang paling berharga bukan lagi modal, sumber daya alam, atau sumber daya manusia, melainkan pengetahuan.

Akhirnya, kepercayaan dan kredibilitas adalah bagian yang sangat penting untuk dimiliki pemimpin. Hanya orang yang mempercayai pemimpin yang dapat dipengaruhi oleh pemimpin. Hal ini hanya bisa didapat bila perilaku pemimpin itu konsisten dengan perkataannya.

Senin, Maret 15, 2010

Movie Analysis: The Last Samurai

Beberapa waktu lalu, saya mencoba menganalisis kepemimpinan yang ada di film the Last Samurai. Ini sebagian hasilnya. Ada 4 pertanyaan yang saya ajukan, who, whom, why, dan how. Banyak sekali yang bisa digali, ini sebagian kecil saja. Semoga pelajaran kepemimpinan ini bisa bermanfaat buat pembaca.

a. Who?

Dari sekian banyak pemimpin yang muncul dalam film ini, saya tertarik pada tokoh Kaisar. Kaisar inilah yang sebenarnya dapat mengendalikan seluruh cerita bahkan mengubah alur cerita bila dia melakukan fungsinya. Walaupun hanya muncul dalam beberapa adegan, namun sangat jelas diceritakan bagaimana pergumulan batin yang terjadi dalam diri Kaisar.

b. Whom?

Kaisar memerintah seluruh Jepang. Apa pun yang diputuskan Kaisar akan mempengaruhi hidup orang di seluruh Jepang.

c. How?

Kaisar dikelilingi oleh banyak penasehat. Dua penasehat yang menonjol adalah Omura dan Katsumoto. Omura adalah tokoh yang menganjurkan modernisasi dan memusuhi segala yang tradisional, karena memiliki kepentingan perdagangan senjata dengan pihak barat. Katsumoto adalah tokoh yang mempertahankan tradisionalisme.

Di antara kedua kutub ini, pada awal cerita, Kaisar memilih untuk mengikuti jalan Omura. Modernisasi dianggap sebagai cara untuk memajukan Jepang. Namun keputusan Kaisar untuk mengikuti modernisasi, adalah bukan keputusan Kaisar secara bulat. Kaisar takut untuk mengambil keputusan memihak para tradisionalisme karena tekanan dari pihak modernisasi. Kaisar sebenarnya mengingini jalan tengah. Seperti yang dikatakannya pada akhir cerita, kira-kira sebagai berikut:

  • "I dreamed of a unified Japan. Of a country strong and independent and modern. And now we have railroads and cannon and Western clothing. But we cannot forget who we are. Or where we come from."

Namun Kaisar mencari cara aman dalam melakukan kepemimpinannya. Dia tidak mau mengambil keputusan, yang sebenarnya sesuai dengan hati nuraninya. Kaisar sebenarnya sudah tahu keputusan apa yang seharusnya diambil, namun tidak mampu menahan tekanan dari penasehatnya Omura. Dengan kata lain, kepemimpinannya hanyalah disetir oleh Omura. Kaisar menyetujui saja, apa pun yang dianjurkan oleh Omura, tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya terhadap seluruh rakyat. Kepemimpinannya hanya berupa posisi, namun tidak berfungsi. Dapat dikatakan bahwa kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang gagal.

d. Why?

Kaisar di Jepang, begitu diagungkan sebagai wakil dari dewa. Kaisar berada di istana dan tidak pernah berkesempatan untuk meninjau keadaan negerinya. Ia hanya mendengar laporan dari penasehat-penasehatnya. Ini membuat Kaisar tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya di bawah. Ini akan membuat keputusan-keputusan yang diambil selanjutnya semakin salah. Pelajaran yang saya dapat, seorang pemimpin yang baik, seharusnya juga turun ke lapangan untuk meninjau sendiri keadaan sesuatu yang dipimpinnya. Dengan turun dan melihat langsung, pemimpin dapat langsung mengevaluasi keputusan-keputusannya maupun pelaksanaan dari keputusannya apabila ada yang tidak cocok dengan pikiran dari pemimpin.

Kaisar kurang menggunakan otoritasnya sebagai pengambil keputusan tertinggi. Dia sedikit banyak tahu bahwa tindakan yang dilakukan Omura terlalu berlebihan, namun tidak berdaya untuk mencegahnya. Pelajaran yang saya dapat, pemimpin harus berani bertindak tegas terhadap bawahan yang tidak menjalankan tugas dengan baik.

Kaisar kurang menyadari bahwa apa pun yang dia putuskan akan berakibat pada seluruh negeri. Dalam film ini, keputusannya dalam hal membiarkan Omura memegang kendali, akhirnya menyebabkan pembantaian dari seluruh Samurai yang ada dan semuanya mati, kecuali Algren (sehingga disebut The Last Samurai).

Pelajaran yang saya dapat, seorang pemimpin harus memikirkan baik-baik akibat dari keputusan yang dia keluarkan. Semakin tinggi lingkup pemimpin itu, semakin banyak orang yang harus menanggung akibat dari keputusan yang dia keluarkan.

Kaisar akhirnya mengambil keputusan yang benar dengan menyingkirkan Omura dari jajaran penasehatnya dan membatalkan pembelian senjata dari Ambasaddor Swanbeck, namun keputusan itu terlambat. Keputusan yang terlambat, walaupun benar, akan terlanjur mengakibatkan banyak kerusakan.

Pelajaran lain yang saya dapat, pemimpin disamping harus mengambil keputusan yang tepat, juga harus mengambil keputusan pada saat yang tepat. Bila terlambat atau terlalu cepat maka akan menyebabkan kerusakan.

Kamis, Maret 11, 2010

Penerapan Logoterapi dalam Kasus PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)

Kasus di bawah ini diambil dari jurnal yang berjudul Using Frankl's Concepts with PTSD Clients oleh Jim Lantz.

1. Pemaparan Kasus

Betty mengalami mimpi buruk dan kilasan memori yang menakutkan sampai membuat dia menangis histeris, mengalami gangguan tidur, dan problem seksual. Hal-hal buruk ini dimulai segera setelah anak tertuanya berumur tujuh tahun.

Kilasan memorinya adalah tentang seorang lelaki dewasa yang melakukan hal buruk kepadanya. Betty mulai terbiasa minum minuman keras di malam hari dengan alasan supaya bisa tidur. Betty mulai tidak melakukan kewajiban-kewajiban rumah tangganya. Betty merasa selalu lelah dan tidak mau diajak berhubungan intim oleh suaminya. Betty malas berangkat kerja dan tidak lagi menikmati pekerjaannya.

2. Intervensi

Betty diberi tes PIL (Purpose in Life Test) yang dibuat oleh Crumbaugh and Maholick dan mendapat skor 86. Pada PIL test, skor kurang dari 92, berarti mengalami kekosongan eksistensi diri. Skor antara 93 dan 111, berarti subjek rentan terhadap kehilangan eksistensi. Skor lebih dari 112, berarti memiliki makna hidup dan tujuan hidup yang baik.

Logoterapis memberikan terapi pada Betty sejak 1984 sampai 1987. Melalui proses terapi, Betty diminta untuk mengingat dengan detail kejadian di masa kecilnya sebagai penerapan teknik intensi paradoks.

Betty dapat mengingat bahwa waktu dia berumur tujuh tahun (usia yang sama dengan anaknya ketika Betty mulai mengalami flashback ini), laki-laki yang tinggal di sebelah rumahnya sering meraba-raba Betty dan memaksa untuk melakukan oral sex, bahkan mengambil foto-foto mereka. Betty ingat bahwa laki-laki itu mengancam akan membunuh kedua orang tuanya bila Betty melaporkan perbuatan itu. Laki-laki itu sering membunuh binatang kecil di hadapan Betty untuk menunjukkan hal itu yang akan dilakukan pada orang tua Betty.

Betty juga diintimidasi dengan cara diberitahu laki-laki itu bahwa laki-laki itu melakukan segalanya karena kesalahan Betty. Menurut laki-laki itu, Betty yang menyebabkan laki-laki itu terangsang. Betty lah yang jahat dan kotor, karena membuat laki-laki itu berbuat dosa. Hal ini membuat Betty mengalami kevakuman eksistensial.

Betty dapat mengingat, pada umur delapan tahun dia menceritakan kejadian itu kepada orang tuanya, setelah laki-laki itu pindah dari sebelah rumahnya. Orang tuanya segera membawa Betty ke dokter, dan dokter berkata, "Tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada orang yang berbuat apa-apa kepada Betty." Semua kejadian dianggap hanya khayalan Betty.

Betty, suaminya, dan terapis percaya bahwa sangat penting untuk mengingat itu semua dan menceritakan pada orang lain tentang hal itu. Bagi Betty sangat penting untuk pergi ke polisi dan melaporkan kejadian yang sudah terjadi 19 tahun yang lalu. Penting juga bagi Betty untuk berbicara pada orang tuanya dan bertanya, "Mengapa waktu itu kalian tidak berbuat apa-apa?", dan menemukan bahwa orang tuanya memang saat itu tidak tahu harus melakukan apa, karena dokter hanya menyuruh mereka untuk mengabaikan hal itu dan anak ini akan melupakannya cepat atau lambat.

Bagi Betty sangat penting juga ketika mereka melakukan, upacara pernikahan ulang. Betty mengatakan bahwa dia berhenti merasa kotor setelah John 'membuktikan' bahwa dia tetap ingin menikahi Betty, setelah dia tahu apa yang terjadi pada Betty. Kehidupan seks mereka pun secara dramatis membaik setelah perkawinan ulang itu.

Elemen terakhir dalam terapi Betty, adalah penemuan bahwa Betty ternyata menjadi pendengar yang sangat baik bagi orang-orang yang mengalami perkosaan dan pelecehan. Dia menjadi relawan pada crisis center setempat dan menjadi ahli dalam bidang trauma dan teror. Bagi Betty, kerja relawannya adalah pemberian makna bahwa apa yang sudah terjadi dalam hidupnya berguna untuk membantu orang lain. Sehingga tidak lagi menjadi trauma.

3. Hasil

Pada tahap terminasi (1987), skor PIL Betty adalah 124. Dua tahun kemudian dievaluasi kembali dan skornya menjadi 127. Betty melaporkan bahwa tidak ada lagi depresi, masalah seksual, dan dia sudah benar-benar merasa nyaman dan bahagia.

4. Analisa Kasus berdasarkan Teori Logoterapi

Logoterapi bagi klien PTSD, mengharuskan klien untuk mengingat pengalaman traumatis secara detail, mengindentifikasi makna yang tersembunyi dalam trauma dan teror. Tujuan dari logoterapi ini adalah membuat korban trauma itu mengubah rasa bersalah karena masih hidup (survivor's guilt) dan menumbuhkan kesadaran akan makna bahwa pengalamannya itu berharga untuk diberikan kepada dunia.

Teknik Logoterapi yang diterapkan:

a. Paradoxical Intention

Betty diminta untuk mengingat dengan detail kejadian di masa kecilnya. Betty berhasil mengingat, pada waktu dia berumur tujuh tahun, laki-laki yang tinggal di sebelah rumahnya:

  • sering meraba-raba,
  • memaksa untuk melakukan oral sex,
  • mengambil foto-foto mereka,
  • mengancam akan membunuh kedua orang tuanya bila Betty melaporkan perbuatan itu,
  • membunuh binatang kecil di hadapan Betty untuk menunjukkan hal itu yang akan dilakukan pada orang tua Betty.

b. Identifikasi Proses Kehilangan Makna

Laki-laki itu memberitahu Betty, bahwa segalanya terjadi karena kesalahan Betty. Betty lah yang jahat dan kotor, karena membuat laki-laki itu terangsang dan berbuat dosa. Betty dapat mengingat, pada umur delapan tahun setelah laki-laki itu pindah, dia mengadu ke orang tuanya. Orang tuanya segera membawa Betty ke dokter, dan dokter berkata, "Tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada orang yang berbuat apa-apa kepada Betty." Semua dianggap hanya khayalan Betty.

c. Proses menghilangkan kevakuman eksistensi

Betty mengingat itu semua dan menceritakan pada orang lain tentang hal itu. Betty pergi ke polisi dan melaporkan kejadian yang sudah terjadi 19 tahun yang lalu. Betty untuk berbicara pada orang tuanya dan bertanya, "Mengapa waktu itu kalian tidak berbuat apa-apa?", dan menemukan bahwa orang tuanya memang saat itu tidak tahu harus melakukan apa, karena dokter hanya menyuruh mereka untuk mengabaikan hal itu dan anak ini akan melupakannya cepat atau lambat. Betty melakukan, upacara pernikahan ulang. Betty mengatakan bahwa dia berhenti 'merasa kotor' setelah John 'membuktikan' bahwa dia tetap ingin menikahi Betty, setelah dia tahu apa yang terjadi pada Betty.

d. Derefleksi

Betty ternyata menjadi pendengar yang sangat baik bagi orang-orang yang mengalami perkosaan dan pelecehan. Dia menjadi relawan pada crisis center setempat dan menjadi ahli dalam bidang trauma dan teror.

e. Medical Ministry

Bagi Betty, kerja relawannya adalah pemberian makna bahwa apa yang sudah terjadi dalam hidupnya berguna untuk membantu orang lain. Sehingga tidak lagi menjadi trauma.