Kamis, Februari 11, 2010

Terobsesi pada Tuhan (2) Preoccupation

Dalam tulisan sebelumnya, saya mengupas tentang persistensi. Kali ini saya akan bahas unsur kata kedua yang terkandung dalam definisi obsesi, yaitu kata preoccupation yang sederhananya dapat diartikan 'keasyikan'. Mari kita lihat cerita Kain dan Habel berikut.

  • Kejadian 4:2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.
Tahukah saudara bahwa sebelum jaman Nuh, tidak ada orang yang memakan daging? Semua orang vegetarian. Baru setelah banjir besar, Nuh diijinkan Tuhan untuk memakan binatang. Ini buktinya:

  • Kejadian 2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

Binatang tidak diperintahkan untuk dimakan. Setelah banjir besar:

  • Kejadian 9:3 Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.
Ada kata 'akan', berarti sebelumnya orang tidak makan 'segala yang bergerak dan yang hidup'. Lalu pertanyaannya, mengapa Habel memilih profesi sebagai penggembala domba? Bukankah domba itu tidak akan dimakannya? Jawabannya adalah karena dia begitu terobsesi dengan Tuhan. Habel tahu bahwa korban binatang adalah korban kesukaan Tuhan.

Waktu Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, takut, dan bersembunyi karena dosa dan ketelanjangan mereka, Tuhan meng-cover mereka dengan cara menutupi tubuh Adam dan Hawa dengan kulit binatang. Itulah binatang pertama yang disembelih. Habel belajar bahwa itulah korban yang menyukakan hati Tuhan, korban yang menutupi dosa, korban yang membuat dia bisa menemui Tuhan.

Maka Habel begitu terobsesi untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan. Ia persiapkan mulai dari menggembalakan, memelihara domba. Bukan untuk dimakan, tapi khusus untuk dipersembahkan. Itulah sebabnya persembahan Habel diterima Tuhan sedangkan Kain ditolak. Habel mempersiapkan persembahannya dengan 'asyik'. Itulah yang dinamakan preoccupation.

Saya mau ambil contoh seorang tokoh publik terkenal saat ini, Anies Baswedan. Berikut ini riwayat singkatnya yang saya temukan di internet (maaf lupa alamatnya).

  • Nama : Anies Rasyid Baswedan PhD (Cirebon, 7 Mei 1969)
  • Pendidikan:PhD, Departemen Ilmu Politik Northern Illinois University, AS (2005), Master of Public Management, International Security and Economic Policy University of Maryland School of Public Policy, College Park, AS (lulus tahun 1998), Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (lulus tahun 1995), Kajian Asia, Sophia University, Tokyo, Jepang (non-degree, 1993).
  • Beasiswa dan penghargaan:Gerald Maryanov Fellow, Northern Illinois University (2004-2005), Indonesian Cultural Foundation Scholarship (1999-2003), William P Cole III Fellowship, Universitas Maryland (1998), Fulbright Scholarship (1997-1998), ASEAN Students Assistance Awards Program (1998), JAL Scholarship (1993), AFS Intercultural Program, SMA di Milwaukee, Wisconsin, AS (1987).
  • Pengalaman kerja, antara lain:Rektor Universitas Paramadina, Jakarta (sejak Mei 2007), Direktur Riset The Indonesian Institute Center for Public Policy and Analysis, Jakarta (sejak November 2005), Kemitraan untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan (Januari 2006-Mei 2007), peneliti pada Pusat Penelitian, Evaluasi, dan Kajian Kebijakan, Northern Illinois University (tahun 2000), Pusat Antar Universitas, UGM (1994-1996).

Bagaimana dia bisa seperti ini? Lihat tahun kelahirannya. Masih sangat muda dan sudah berprestasi global! Menurut cerita dosen saya yang seangkatan dengan dia, Anies ini orang yang berwawasan global dan jauh ke depan. Ia mengatur langkahnya sejak dari awal. Ia persiapkan dirinya untuk mencapai lingkup global. Bila ada pemilihan senat tingkat fakultas, dia tidak ikut. Ikutnya tingkat universitas. Begitu juga ketika kuliah di luar negeri. Ia tidak hanya kuliah, Ia berkarya, menjalin relasi. Mempersiapkan dirinya. Itulah yang saya maksud dengan preoccupation. Menganggap apa yang dikerjakan adalah sesuatu yang mengasyikkan.

Lihat Yusuf, ia mempersiapkan hidupnya. Dalam tahap manapun di hidupnya, ia selalu melakukan yang terbaik dan terus memandang ke tujuan akhir, walaupun apa yang ada di hadapannya sepertinya tidak mendukung mimpinya. Setiap pekerjaannya dia lakukan dengan asyik. Dan orang yang melakukan sesuatu dengan 'keasyikan' pasti akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari rata-rata orang lain. Lihat saja Habel.

  • Ibrani 11:4 Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita punya obsesi? Apakah kita menjalaninya dengan asyiknya? Atau berprinsip 'que sera sera, whatever will be will be'? Ayo rencanakan masa depanmu.

Dalam hubungan dengan Tuhan, persiapkan diri kita dengan penuh keasyikan untuk melayani Dia. Pasti apa yang akan kita hasilkan akan lebih baik dari rata-rata orang lain. Setuju gak?

(bersambung ke unreasonable)

2 komentar: