Rabu, Februari 10, 2010

Terobsesi pada Tuhan (1) Persistent

Kolose 3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Col 3:23 Whatever you do, do it wholeheartedly as though you were working for your real master and not merely for humans. (versi God's Word).

Mungkin kita sering membaca ayat di atas, namun menerapkan ayat itu dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang belum tentu dapat kita lakukan. Ayat di atas jelas mengatakan bahwa apapun yang kita lakukan bukan untuk manusia. Ini adalah perintah.

Kata wholeheartedly (sepenuh hati) yang dimaksud dalam ayat ini berasal dari kata psuche yang dapat diartikan breath, spirit, life, mind, soul. Jadi ayat di atas bermaksud mengatakan bahwa ekstrimnya, dalam hal bernapas pun, kita harus melakukannya untuk Tuhan. Hidup ini semuanya ditujukan kepada Allah.

Semua orang pasti memiliki obsesi. Definisi obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan.

Dari kamus Webster, obsesi diartikan sebagai “persistent disturbing preoccupation with an often unreasonable idea or feeling; broadly : compelling motivation ” Ada 3 kata kunci dalam definisi ini yang akan saya bahas secara berseri, yaitu kata persistent, preoccupation, dan unreasonable.

Mari kita kupas satu per satu 3 kata kunci di atas.

1. Persistent

Persistent artinya keteguhan, ketetapan, atau bahasa jawanya ngeyel. Biasanya mengandung pengertian 'nggak tahu malu'. Ada pepatah jawa yang terkenal, namun sering kita potong separo. Pepatah itu berkata, "giyak-giyak ben kecandak, alon-alon waton kelakon". Artinya cepat-cepatlah agar tercapai, namun kalau belum bisa tercapai, pelan-pelan gak papa asal tetap tercapai. Ini persis dengan yang dimaksud dengan persistent. Tidak berhenti sampai tujuan tercapai.

Dalam Lukas 8:43-44 ada contoh:

  • Luk 8:43 Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. 44 Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.

Dikatakan bahwa wanita ini tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. Artinya dia coba kemana-mana. Dia berusaha untuk sembuh. Itulah persistensi. Contoh lain ada dalam cerita Yakub ketika bertemu dengan malaikat.

  • Kejadian 32:24-26 Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. 25 Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. 26 Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku."

Yakub berkata, "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." Ini persistensi. Yesus sendiri juga mengajarkan kita untuk persisten, walaupun bukan berarti memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Tapi kita harus terus meminta selama Tuhan belum menjawab 'tidak'! Ni ayatnya:

  • Luk 11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.

Yesus berkata, "karena sikapnya yang tidak tahu malu itu, …" inilah persistensi.

Banyak orang memiliki kecenderungan untuk berhenti sebelum tujuannya tercapai. Putus asa ketika ada tembok yang menghalangi. Dan itu membuat orang tidak akan pernah mencapai hal yang maksimal dalam hidupnya. Bayangkan wanita pendarahan itu, atau Yakub, Yusuf, Daud, dll.. bila mereka berhenti ketika ada masalah... wanita itu tidak akan sembuh dan mereka yang lain tidak akan mencapai puncak karir mereka.

Dalam hidup saudara adakah persistensi? Dalam 'mengejar Tuhan' apakah ada persistensi? Apakah saudara 'ngeyel' untuk tetap bertemu Tuhan? Dalam mengejar tujuan hidup saudara, apakah saudara persisten? Seperti seorang pendaki gunung yang belum akan berhenti sebelum mencapai puncak, marilah kita miliki sikap persisten. Ayo jangan berhenti di tengah jalan... selesaikan!

(bersambung ke preoccupation)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar