Kamis, Februari 18, 2010

Seribu Terakhir

Isa 57:10 Oleh perjalananmu yang jauh engkau sudah letih lesu, tetapi engkau tidak berkata: "Tidak ada harapan!" Engkau mendapat kekuatan yang baru, dan sebab itu engkau tidak menjadi lemah.

Di kantongku hanya tinggal seribu rupiah. Sudah lama aku nggak gajian. Pagi itu di gereja aku pejamkan mata. Kali ini aku gak peduli dengan teman-teman yang sedang mempersiapkan LCD, alat musik, kabel-kabel, dan pernik-pernik ibadah lain. "Tuhan, gimana nih?" hanya itu yang bisa kubilang pada Tuhan.

Tagihan besar menanti. Hutangku sudah sangat banyak. Kesalahan demi kesalahan dalam perhitungan keuangan membuat perusahaanku sudah terpuruk. Dan akhirnya berakibat pada kondisi ini. Seribu rupiah terakhir di kantongku.

Bertahun-tahun aku selalu memberikan perpuluhan dengan tepat bahkan berlebih kepada gereja. Tidak pernah aku memberi persembahan sebesar seribu rupiah. Dan aku lakukan itu semua dengan sukacita. Tapi pagi ini, dengan sedih hati aku hanya bisa memberikan seribu rupiah. Semoga masa krisis ini cepat berlalu pikirku.

Sambil menunggu ibadah dimulai, pikiranku melayang ke hari esok. Aku memikirkan tagihan delapan ratus ribu rupiah yang harus aku bayar esok pagi. Aku memikirkan uang jutaan lainnya yang harus aku keluarkan untuk membayar tagihan lain-lainnya lagi hari-hari berikutnya.

Pagi itu aku berharap sebuah keajaiban, sebuah jalan keluar, sebuah kemenangan seperti layaknya cerita-cerita mujizat yang sering aku dengar di gereja. Kuingat cerita seorang pendeta yang sering mendapatkan mujizat. Mobil tiba-tiba ada yang memberi, uang tiba-tiba ada di rekening. "Ah, kalau saja ada mujizat juga untukku…" gumamku lagi.

Tubuhku memang ada di kebaktian, namun pikiranku ada nun jauh dimana. Aku membayangkan andaikata aku benar-benar ada di hadirat Tuhan, tentu keadaannya akan banyak jauh berbeda. Hadirat Tuhan? Ini kan di gereja? Masa nggak ada hadirat Tuhan? Tapi jujur, itu yang kurasakan pagi itu. Seandainya saja gereja adalah sebuah solusi, sebuah jalan keluar, pasti semuanya akan beres.

Andaikan ada Yesus datang di ibadah ini, aku pasti minta tolong padaNya. "Tuhan, gimana nih? Masa gak tau penderitaanku?" seruku lagi dalam hati. Selanjutnya aku kaget. Ada suara samar-samar. Jauh. Menusuk ke dalam pikiranku. Aku dengar Yesus berkata, "Aku tahu anak-Ku. Bukan hanya tahu, tapi aku malah lebih tahu dari kamu tentang masalahmu."

"Tuhan, kalau begitu mengapa Kau tidak beri mujizat?" tuntutku lagi.

"Kamu tahu, Aku ini konsekuen. Konsisten. Semua kuasa sudah Ku-serahkan pada gerejaKu. Semua keputusan sudah Kuserahkan pada pimpinan-pimpinan gereja." Jawab Yesus. Dapat kurasakan kesedihanNya saat itu. Mungkin ada air mata di mata-Nya.

Kalau saja, kalau saja, kalau saja, gereja memang seperti yang Yesus mau. Seharusnya ketika aku datang ke gereja hari ini, aku bisa datang dengan air mata permasalahan. Aku tidak perlu pasang muka munafik tanpa masalah. Aku bisa bebas cerita semua masalah dan bebanku, tanpa perlu merasa malu dan tanpa perlu dihakimi sebagai 'kurang iman', 'tidak dewasa', dan 'kurang berdoa'. Aku seharusnya bisa menjatuhkan diriku di atas tangan kasih karunia gereja dan menemukan sebuah tempat aman, sebuah persembunyian.

Namun, jarang ada wajah bersahabat di gereja. Mereka seolah ingin mengatakan bahwa mereka sudah punya cukup banyak masalah di rumah karena itu jangan kau coba-coba ceritakan masalahmu. Dengan gampangnya mereka bisa menjawab masalahku dengan sebuah kata mutiara "doa dengan iman akan memindahkan semua gunung permasalahan", padahal yang sebenarnya dikatakan hati mereka ialah "Aku tidak peduli apapun masalahmu.".

Tanpa sadar, waktu penyembahan telah usai. Sekarang semua jemaat duduk manis sementara mendengarkan khotbah pak pendeta tentang penginjilan, membuka cabang, dan bagaimana jemaat harus berkorban memberi lebih banyak uang lagi, agar tersedia biaya untuk itu.

Tiba-tiba, bendahara gereja yang duduk di sebelahku membisikkan sesuatu, "Kapan kamu bayar iuran bulanan pengurus sekolah minggu?". Aduh Tuhan, bagaimana ini. Lalu dengan senyum aku menjawab dia dengan jawaban yang sama yang kukatakan padanya sebelumnya berkali-kali, "Besok ya.". Sudah tiga bulan aku nggak bayar iuran dan aku satu-satunya pengurus yang menunggak. "Oke, sekalian sama iuran natal ya besok!" jawabnya lagi. Hatiku tambah pedih rasanya.

Seandainya aku adalah salah satu murid Yesus, seandainya aku ada di gereja mula-mula di Kisah Para Rasul, tentu keadaannya akan jauh berbeda. Jawaban atas masalah keuanganku mungkin bukanlah perpuluhan. Jawabannya mungkin bukanlah dengan menabur lebih banyak. Jawabannya mungkin bukan dengan menambah jam doa. Jawabannya adalah jawaban.

Aku mulai membaca di Kisah Para Rasul demikian, "Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya."

Mereka memiliki kasih karunia yang melimpah-limpah. Ketika aku lihat jemaat sekitarku yang sedang mengangguk-angguk untuk mengatakan "Amin" kepada kata-kata pak pendeta, aku sadar jika gereja saat ini telah jauh dari gambaran gereja yang semula. Tampaknya tidak ada satu orang pun di sini yang peduli atau pun mau membantu kondisi keuanganku.

Mauku, gereja seharusnya adalah komunitas. Mauku, gereja adalah rumah. Mauku, gereja adalah keluarga. Aku bayangkan hebatnya gereja seperti itu. Kalau aku capek kerja seharian, waktu kepalaku hampir pecah dengan urusan kantor, aku selalu punya harapan untuk menutup hari dengan istirahat nyaman di rumah. Aku punya harapan karena aku tahu ketika aku sampai di rumah, tidak ada yang akan menghakimiku, tidak ada yang menyalahkanku, tidak ada yang membuat aku seperti orang bodoh, tidak, tidak ada. Aku bisa pakai baju yang sama berhari-hari di rumah tanpa satu orang pun menyebut aku miskin. Aku bisa istirahat, makan, tidur, santai, bahkan glegeken atau kentut di rumah tanpa khawatir kehilangan image. Ah andai saja gereja bisa menjadi sebuah rumah.

Memang rumah tidaklah menyelesaikan semua masalah. Masalah yang sama tetap ada di sana keesokan harinya, namun rumah adalah sebuah tempat peristirahatan. Rumah adalah tempat dimana aku bisa feel good dan melupakan semua masalah di luar karena aku selalu diterima di rumah. Rumah adalah tempat 'kasih karunia yang berlimpah-limpah' yang tidak ditemukan di tempat manapun yang lain.

"Kita harus hati-hati menggunakan kas gereja!", itulah perkataan yang sudah terlalu sering aku dengar di rapat pengurus gereja. "Kita tidak boleh sembarang memberikan uang atau bantuan kepada orang. Kita harus lihat dulu motivasinya apa. Jangan-jangan punya niat jahat. Jangan-jangan jadi ketergantungan. Jangan-jangan kita diperalat. Kita harus berdoa dulu berulang-ulang sebelum kita memberikan bantuan!", kata pak penatua. Ah, seandainya ada kasih karunia yang melimpah-limpah di gereja, kita tidak pernah pusing soal ditipu atau diperalat.

Bukankah kasih karunia mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan?Bukankah kasih karunia mengajarkan kita untuk selalu memberi tanpa mengharap balasan? Bukankah kasih karunia membuat kita tetap setia mengasihi dan percaya seseorang bisa dan mungkin berubah karena kita gemar menabur perbuatan baik kepada dia? Bukankah kasih karunia Kristus diberikan pada semua orang tanpa memandang motivasi? Bukankah Yesus mati bagi semua orang di muka bumi dan bukan hanya bagi mereka yang menyebut diri Kristen? Bukankah justru karena kita dibanjiri dengan kasih karunia yang melimpah-limpah yang semestinya tidak layak kita terima, kita malah diubah karenanya menjadi pribadi yang mengasihi Kristus?

Gereja masa kini bukan disetir oleh kasih karunia, namun disetir oleh tujuan-tujuan. Karena indahnya visi dan misi gereja, maka segala hal yang lain pun dikorbankan. Jikalau saja gereja mau berbalik melihat ke sekitarnya, dimana ada banyak orang yang berteriak minta tolong padanya untuk ditolong dan diselamatkan, maka gereja akan mengalami sebuah terobosan besar dan menjadi gereja yang disetir oleh kasih karunia. Ini kan teladan dari Yesus?!

Kotbah pak pendeta sudah selesai. Aku tersadar dari lamunanku. Kantong persembahan disodorkan padaku. Kukeluarkan seribu terakhirku. Dan tiba-tiba sekelumit pikiran terlintas di benakku. Apa gunanya aku ada di tempat itu. "Gereja ini tidak menjawab kebutuhanku!" pikirku. Aku mulai merancangkan, hari ini adalah hari terakhir aku datang ke tempat ini. Aku semakin yakin dan yakin akan keputusanku. Aku lalu bangkit berdiri.

Pak pendeta sudah mengangkat tangannya untuk memberikan berkat kepada jemaat. Dan aku berjalan gontai keluar tanpa menunggu kata-katanya selesai. Saat itu di pintu gereja, seseorang menyapaku. Rupanya ia tidak masuk ruangan gereja. Hanya berdiri di luar selama ibadah berlangsung. Wajahnya seperti wajah orang kebanyakan, sederhana, dan agak gembel. Dia tersenyum padaku dan menatapku dengan tajam.

Orang itu berkata kepadaku dengan suaraNya yang agung, "Anak-Ku, sekarang kau tahu apa artinya itu kasih karunia yang berlimpah-limpah. Maukah kau menunjukannya pada orang-orang yang ada disini? Maukah kau mengampuni mereka dengan tanpa alasan, tanpa mengharap mereka untuk berubah seperti yang telah Ku-buat padamu? Maukah kau jadi kaki dan tangan-Ku bagi mereka? Maukah kau jadi mulutKu buat mereka? Maukah kau memberikan kasih karunia yang melimpah-limpah itu? maukah kau ampuni mereka seperti kau sudah Kuampuni? Maukah kau menjadi alatKu untuk memperbaiki rumahKu ini?"

Aku jawab, "Aku mau Tuhan…, forgive me for being such a jerk dan menghakimi semua orang."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar