Jumat, Januari 29, 2010

Menghadapi Masa Pensiun (Makalah Psikogerontologi)

Definisi

Retirement/Pensiun adalah masa hidup seseorang saat ia tidak lagi bekerja. Standar usia pensiun di negara barat adalah 65 tahun dan di Indonesia adalah 55 tahun. Pensiun adalah masa saat orang bebas untuk memilih, melakukan sesuatu atau tidak. Memilih untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia atau untuk sesuatu yang berguna. Pada masa pensiun, tidak ada tekanan waktu untuk menyelesaikan sesuatu (de Pasquale, 2001 dalam Butters 2002).

Corsini (1987), mengatakan bahwa pensiun adalah proses pemisahan individu dari pekerjaannya, dimana dalam menjalankan perannya seseorang digaji. Masa pensiun akan mempengaruhi aktivitas seseorang, dari situasi kerja ke situasi di luar pekerjaan.

Pensiun dapat dijelaskan sebagai suatu masa transisi ke pola hidup baru, atau merupakan akhir pola hidup (Hurlock, 1985). Transisi ini meliputi perubahan peran dalam lingkungan sosial, perubahan minat, nilai dan perubahan dalam segenap aspek kehidupan seseorang. Seseorang yang memasuki masa pensiun, dapat mengarahkan hidupnya untuk mengerjakan aktivitas lain, atau dapat juga sama sekali tidak mengerjakan aktivitas tertentu lagi.

Di Indonesia, seseorang dapat dikatakan memasuki masa pensiun bila :
a) Sekurang-kurangnya mencapai usia 50 tahun.
b) Telah diberhentikan dengan hormat sebagai pegawai negeri
c) Memiliki masa kerja untuk pensiun ± 20 tahun.

Beberapa Contoh:

- George Burns (komedian), pada usia 87 tahun berkata, "Saya percaya bahwa, anda harus tetap bekerja selama anda dapat bekerja." Pada usia 96 tahun, ia masih tampil di panggung. Pada waktu meninggal di usia 98 dia masih bekerja menyelesaikan buku (Papalia, 2007).

- Jessica Tandy, pada usia 81 tahun memenangkan Academy Award. Pada usia 84 tahun, masuk nominasi Piala Oscar. Pada usia 85 tahun, meninggal dalam keadaan dinominasikan di Emmy Award (Papalia, 2007).

- Armand Hammer, pada usia 91 tahun mengepalai Occidental Petroleum (Papalia, 2007).

- Julia Child, pada usia 90 tahun, menulis buku dan menjadi pembawa acara memasak di televisi.

- Jonas Salk, pada usia 80 tahun, bekerja membuat vaksin untuk AIDS (Papalia, 2007).

- George Eastman, pendiri dari Eastman Kodak, sangat sukses dan menjadi inspirasi dari banyak pemimpin bisnis. Keuangan, pendidikan tinggi, naluri bisnis yang hebat membuat perusahaannya sukses di tangannya. Anehnya, segera setelah dia pensiun, ia melakukan bunuh diri. Ada catatan singkat yang dia tinggalkan, "My work is done. Why wait?" (Pekerjaan saya sudah selesai, mengapa menunggu (kematian)?) (Berglas, 1997).

- Ibu Kasur (Sandiah Suryono), pada usianya yang ke 73, masih aktif mencipta lagu anak-anak dan menjadi pembawa acara di televisi. Karyanya mencapai 30 lagu anak-anak, aktif memimpin Yayasan Setia Balita, dan mengelola lima Taman Kanak-Kanak. Dia memiliki semboyan, "Para Lanjut Usia Indonesia jangan terlalu banyak istirahat, agar tidak berkarat." (Setiabudhi, 1999)

Dampak Emosi dari Retirement

Pensiun akan memutuskan seseorang dari aktivitas rutin yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Rantai sosial yang sudah terbina dengan rekan kerja juga terputus. Paling fatal adalah pensiun akan menghilangkan identitas seseorang yang sudah melekat begitu lama (Wenar, 2000).

Holmes dan Rahe (1967 dalam Antonides, 1991), mengungkapkan bahwa pensiun menempati peringkat 10 sebagai penyebab stress.

Akibat paling buruk pada pensiunan adalah depresi dan bunuh diri (Zimbardo, 1979).

Liem & Liem (1978 dalam Wenar 2000), mengatakan bahwa pensiun dapat menyebabkan masalah penyakit terutama gastrointestinal, gangguan saraf, dan berkurangnya kepekaan. Ia menyebut penyakit di atas, dengan istilah retirement syndrome.

Dampak yang paling nyata adalah berkurangnya pendapatan yang dapat menjadi tekanan besar dalam diri individu. Sebagai orangtua, pada masa ini, seseorang harus membesarkan anak-anak yang mulai berangkat remaja, atau yang sudah berkeluarga. Masa ini adalah masa yang penuh kesulitan bagi pensiunan di Indonesia. Pensiunan juga harus membiayai pendidikan anak-anak mereka, dengan kondisi pendapatan yang sudah menurun.

Selama ini yang menjadi patokan untuk penentuan masa pensiun adalah faktor usia pekerja saat ia dianggap mulai kurang produktif. Di negara barat, seseorang baru memasuki masa pensiun jika ia berusia 65 tahun. Ketika seseorang memasuki usia 65 tahun, ia sudah masuk pada kategori dewasa akhir (late aduthood). Produktivitas kerja sudah menurun, dan menurut tugas perkembangan, mereka telah saatnya berhenti bekerja dan menikmati kehidupan mereka.
Di Indonesia, seorang pegawai negeri sipil memasuki masa pensiun ketika ia berusia 55 tahun. Ada pengecualian bagi PNS yang keahliannya dibutuhkan. Usia 55 tahun masuk dalam kategori dewasa menengah (middle adulthood). Di tahap ini sebenarnya seseorang masih cukup produktif, dan justru sedang berada di puncak karirnya. Pada masa ini, seseorang masuk pada tahap re-evaluasi diri. Timbul pertanyaan seperti “Apakah saya sudah berhasil dalam hidup?”, “Apa yang akan saya lakukan dalam sisa hidup saya?”

Meskipun kekuatan fisik dan mental seseorang pada masa ini mulai menurun, namun pada masa ini seseorang mulai mencapai prestasi puncak, baik itu karir, pendidikan, dan hubungan interpersonal. Hal ini akan menimbulkan masalah psikologis. Mereka masih mampu bekerja, tetapi harus berhenti bekerja karena peraturan perusahaan. Ada perasaan dibuang dan ditolak yang muncul.

Dampak positif dari pensiun adalah seseorang dapat terbebas dari rutinitas kerja. Ada perasaan puas karena sudah berhasil menyelesaikan tugas dan kewajibannya. Perlmutter (1985), mengatakan bahwa sebagian besar kaum pensiun menunjukkan perasaan puas, tetap merasa dirinya berguna, dan dapat mempertahankan rasa identitasnya. Rasa depresi dan kecemasan yang timbul, biasanya ringan dan hanya sementara. Depresi lebih disebabkan oleh gangguan fisik dan bukan karena masa pensiun itu sendiri.

Fase Masa Pensiun (Novak dalam Butters 2002)

1. Pre-retirement phase

Persiapan yang dilakukan adalah persiapan keuangan, mencari hobi baru, membeli rumah untuk masa tua, dan merubah gaya hidup. Glamser (1981 dalam Butters 2002) menemukan bahwa 80% dari responden yang memiliki kesehatan yang baik, keuangan yang baik, pendidikan tinggi, dan memiliki hubungan sosial yang baik menunjukkan sikap positif (favourable) terhadap pensiun ketika masa itu tiba.

2. Honeymoon phase

Fase euphoria bagi para pensiunan. Mereka dapat melakukan apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh pekerja yang terikat dengan jam kerja. Mereka dapat melakukan liburan panjang, travelling, mengunjungi saudara jauh, tidur seharian, atau apapun juga.

3. The retirement routine phase

Setelah lewat dari masa kegirangan (excitement) karena memiliki kebebasan mutlak, mereka mulai masuk ke masa aktivitas rutin. Aktivitas yang dilakukan misalnya bersosialisasi dengan tetangga, melakukan hobi, belajar kembali, atau menjadi relawan.

4. Rest and Relaxation phase

Inilah fase yang sering dibayangkan oleh orang-orang untuk dialami dalam masa pensiun. Hanya ada satu atau sedikit aktivitas yang dipilih untuk dilakukan. Aktivitas yang dilakukan di fase sebelumnya akan sebagian besar ditinggalkan.

5. Disenchantment phase

Fase hilangnya pesona dari masa pensiun. Fase ini tidak selalu terjadi pada lansia. Bila fase sebelumnya dijalani dengan baik, dan tugas perkembangannya dipenuhi dengan tuntas maka fase ini tidak terjadi. Ekerdt et al (1985 dalam Butters 2002) menemukan bahwa kepuasan hidup di lansia hanya didapat pada masa 6 bulan setelah pensiun. Setelah itu akan terus menurun. Kepuasan hidup akan turun drastis mulai pada masa 13-18 bulan setelah pensiun.
Pada masa ini biasanya mulai terjadi beberapa krisis kehidupan. Misalnya kematian pasangan, ditinggal anak menikah, dan inflasi ekonomi.

6. Reorientation phase

Pada fase ini, lansia yang mengalami fase disenchantment harus melakukan reorientasi. Menata kembali mental dan emosi mereka untuk terus menjalani hidup. Diperlukan dukungan sosial, keluarga, dan teman dekat untuk melakukan reorientasi.

7. Routine phase

Kembali melakukan rutinitas yang sudah jauh berkurang. Orang yang mengalami kepuasan hidup adalah orang yang menyadari apa yang diharapkan dari mereka dan apa hak mereka. Misalnya menerima uang pensiun dan tidak bekerja sepenuh waktu. Tahap ini seharusnya stabil dan dapat dinikmati.

8. Termination phase

Seseorang memerlukan kebebasan dan kesehatan untuk berperan sebagai pensiunan. Peran ini akan hilang bila orang itu kembali bekerja atau datangnya penyakit degeneratif merenggut kebebasannya.

Dasar Teori

Disengagement theory versus Activity theory

Mana yang lebih baik bagi seseorang di masa usia lanjut? Apakah memandang dunia berlalu dengan duduk di kursi goyang, ataukah berusaha tetap sibuk dari pagi sampai malam?

Menurut disengagement theory, proses penuaan pasti akan membawa pengurangan dalam keterlibatan sosial dan pencapaian diri yang lebih besar. Hal ini adalah kondisi yang tidak dapat dihindari sebagai akibat dari penurunan fungsi fisik. Semakin seseorang mampu melepaskan diri dari aktivitas dan melakukan adaptasi, semakin tinggi kepuasan hidupnya (Cumming & Henry, 1961).

Menurut teori aktivitas, peran yang disandang oleh lansia adalah sumber kepuasan yang besar; semakin besar mereka kehilangan peran setelah masa pensiun, menjanda, jauh dari anak-anak, atau infirmitas, maka semakin merasa tidak puaslah mereka. Orang yang tumbuh menjadi tua akan mempertahankan aktivitasnya sebanyak mungkin dan menemukan pengganti bagi perannya yang sudah hilang (Neugarten et al, 1968 dalam Papalia, 2007).

Penelitian lain juga menyatakan bahwa keterlibatan dalam aktivitas yang menantang dan tetap terlibat dalam peran sosial menimbulkan efek pelatihan pada kemampuan kognitif dan berpengaruh positif pada kesehatan dan kemampuan beradaptasinya (Papalia, 2007).

Ada empat jenis kondisi lansia dalam hubungannya dengan kepribadian, aktivitas, dan kepuasan hidup (Neugarten et al., 1968 dalam Papalia 2007):

1. Integrated people : berfungsi dengan baik, memiliki kehidupan emosi yang baik, kemampuan kognitif yang utuh, dan tingkat kepuasan hidup yang tinggi.

2. Armor-defended people : achievement oriented, bekerja keras, berusaha mengontrol dengan ketat situasi di sekitarnya.

3. Passive-dependent people : apatis dan selalu mencari kenyamanan dari orang lain.

4. Unintegrated people : disorganized, pengendalian emosinya kecil, kemampuan kognitif dan psikologisnya buruk (atau jauh berkurang), dan punya masalah dalam menyesuaikan diri .

Continuity Theory (Teori Kesinambungan)

Robert Atchley (1989), mengatakan bahwa seseorang yang mampu memelihara kesinambungan (continuity) dari masa sebelumnya baik dalam hal struktur internal ataupun eksternal akan mengalami kepuasan hidup. Individu yang terbiasa sibuk pada masa mudanya akan memilih untuk tetap sibuk (activity theory), sedangkan individu yang pada masa mudanya lebih santai akan memilih untuk melepaskan kegiatan-kegiatannya (disengagement theory).

Dalam menghadapi masa pensiun dengan baik, makalah ini menggunakan skema dari Martin Bloom (1996), yang menjadi dasar dari prevensi dan intervensi kasus-kasus penyimpangan individu.

a. Meningkatkan kekuatan individu (Increasing individual strengths)
- melakukan aktivitas atau hobi baru (work),
- relaksasi, rekreasi, dan menikmati hidup (leisure),
- belajar lagi (education).

b. Mengurangi kelemahan individu (decreasing individual limitation)
- menerima kenyataan (tugas perkembangan),
- menata ulang kehidupan atau menyesuaikan diri dengan keterbatasan,
- melakukan hal yang sederhana.

c. Meningkatkan dukungan sosial (increasing social support)
- meningkatkan frekuensi kunjungan ke atau dari anak dan sanak saudara,
- melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan sosial,

d. Mengurangi tekanan sosial (decreasing social stresses)
- menjauhkan diri dari kegiatan yang menuntut aktivitas fisik yang tinggi dan berbahaya, misalnya: olah raga berat, lomba-lomba, pekerjaan fisik di rumah, dll.
- mengurangi gaya hidup mewah atau konsumerisme.

e. Meningkatkan kemudahan yang ditimbulkan dari lingkungan fisik
- tinggal di tempat yang tidak bising, misalnya pulang ke kampung halaman,
- memasang foto-foto dinding yang dapat menimbulkan kenangan akan makna hidup dan identitas diri, untuk menimbulkan perasaan puas akan pekerjaan yang sudah diselesaikan,
- berlangganan koran dan majalah-majalah yang 'cerdas', buku-buku, sehingga dapat mengasah otak
- mengatur makanan agar sehat dan sesuai dengan kondisi keuangan.

f. Mengurangi kesulitan yang ditimbulkan dari lingkungan fisik
- mendesain ulang letak benda-benda yang sekiranya mengganggu,
- menjauhkan benda-benda yang dapat menimbulkan kenangan buruk.

Data dan Hasil Penelitian

- Jenis dari aktivitas yang dilakukan setelah tua itu menentukan tingkat kepuasan hidup. Kegiatan informal bersama teman-teman dan keluarga lebih memuaskan daripada kegiatan formal, terstruktur, aktivitas kelompok, atau aktivitas yang bersifat solitaire seperti membaca, menonton televisi, dan hobi-hobi solitaire lain (Longino & Kart, 1982 dalam Papalia 2007).
- Kegiatan yang dilakukan oleh orang Amerika setelah pensiun pada usia 65 tahun ke atas (Papalia 2007) adalah Completly Retired 64%, Homemaker 10%, Retired and Working 13%, Not Retired 14%.
- Managing the mental and emotional aspects of retirement (Butters, 2002). Survey pada 700 pensiunan, menghasilkan kesimpulan bahwa pria dan wanita memiliki reaksi yang berbeda dalam menanggapi pensiun. Pria lebih mudah mengalami depresi dan post power syndrome daripada wanita. Kemungkinan disebabkan pria lebih mengikatkan identitasnya kepada pekerjaan dan status daripada wanita. Wanita mengikatkan identitasnya pada keluarga dan rumah tangganya.

Bekal dalam menghadapi masa Pensiun (Stone, 2001 dalam Butters 2002)

Berikut adalah tips praktis dari Howard Stone:

1. Menghilangkan kata 'pensiun' dalam arti tradisional, dari hidup individu. Pensiun bukan lagi harus diartikan sebagai berdiam diri dan pasrah melihat dunia bergerak, tetapi pensiun diartikan sebagai masa perpindahan ke kehidupan baru.

2. Menyadari bahwa pensiun adalah konsep yang relatif baru dalam dunia manusia. Istilah pensiun baru muncul di era industrialisasi. Pada jaman dulu, lansia diandalkan untuk hal-hal yang membutuhkan kebijaksanaan, ilham (insight), dan pengajaran ketrampilan (skills).

3. Mengatur kembali prioritas hidup. Memilih apa yang paling penting untuk dilakukan. Misalnya memperdalam hubungan dengan keluarga dan teman.

4. Memperbarui semangat untuk belajar atau menempuh pendidikan. Sel-sel dalam otak manusia selalu memerlukan pengetahuan dan tantangan-tantangan baru.

5. Meningkatkan energi kehidupan dengan bergaul dengan orang muda.

6. Melakukan kegiatan yang sama sekali baru dan merayakan keberhasilan yang ditimbulkan oleh berhasilnya melakukan kegiatan itu.

7. Memberikan tanggapan pada kesempatan-kesempatan baru. Membuka diri terhadap kesempatan yang mungkin ditawarkan dunia luar. Mungkin kesuksesan yang lebih besar sedang menanti.

8. Menggerakkan badan secara teratur. Misalnya renang, lari, menari, yoga, bersepeda, dan lain-lain.

9. Melihat mimpi-mimpi masa kecil dan mencoba mencapainya.

10. Mengingat bahwa kebijaksanaan dan kekuatan, untuk mengenali dan bertindak dalam menanggapi segala persoalan, ada di dalam diri orang tua.

4 komentar:

  1. artikelnya keren mas..
    tolong di tulis nama pengarang and bukunya dong mas.
    buat referensi data skripsi..
    terimakasih

    BalasHapus
  2. Pengarangnya saya mas hehe... Donni Hadiwaluyo. Ini makalah yang saya buat di S2 untuk mata kuliah Psikogerontologi. email aja di donnihw@gmail.com nanti saya kirim pdf nya. thanks

    BalasHapus
  3. mas saya jg minta referensi buku untuk bahan skripsi saya dong..boleh ga ??
    makasih sebelumnya :D

    BalasHapus
  4. boleh.. boleh.. bentar ya

    BalasHapus