Selasa, Mei 05, 2009

Mengenali Selera Majikan

Kalau kita punya pembantu rumah tangga baru, tentu masih banyak kekacauan yang terjadi. Dari mulai, baju yang salah meletakkan, baju ayah dimasukkan ke lemari anak, baju anak dimasukkan ke lemari kakak, dst. Sampai ke urusan makanan kesukaan, meletakkan kunci, kertas-kertas penting yang terbuang, dan lain-lain.

Contoh lain: seorang kakak yang tidak mengenal selera adiknya, misalnya, juga bisa kacau begini. Kalau dimintai tolong menyuapi makanan, misalnya, mungkin nasinya akan terlalu banyak, atau terlalu sedikit. Sendoknya terlalu maju, atau terlalu mundur. Lauknya terlalu besar, atau terlalu kecil.

Mengapa kekacauan itu bisa terjadi? Karena pembantu baru belum mengenal majikannya. Mereka bekerja keras, melakukan segalanya agar rumah tampak bersih dan rapi. Namun yang terjadi, malah kertas penting terbuang dan kertas coret-coretan tertata rapi di meja. Hahaha.... Mungkin kita tertawa. Tapi sesungguhnya ini juga mungkin sekali terjadi dalam hidup kita.

Amsal 19:2 Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

Dalam pelayanan kita, dalam studi, dalam rumah tangga, dalam pekerjaan, mungkin saja kita bekerja keras dan hasilnya banyak kesalahan yang kita lakukan. Kita rajin, giat, bahkan cenderung tergesa-gesa bergerak, berbuat sesuatu, namun hasilnya tidak berguna.

Mengapa? Karena kita tidak melakukan sesuai kemauan bos kita. Karena kita belum mengenal kebiasaan, kesenangan, selera majikan kita. Karena kita hanya melakukan sesuatu sesuai selera kita. Sebenarnya siapa sih majikan kita sesungguhnya? Dalam Kolose 3:23, dikatakan bahwa dalam melakukan hal apapun kita hanya punya 1 majikan, yaitu Tuhan.

Kolose 3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Jadi tidak ada jalan lain. Kita harus mengenal kebiasaan Tuhan, selera Tuhan, kesenangan-kesenangan Tuhan, agar tindakan kita bisa berguna. Karena itu perbanyak baca FirmanNya, perbanyak waktu berdoa, perdalam hubungan kita dengan Tuhan.

Jangan sampai terjadi, seperti cerita pembantu di atas. Kita melayani Tuhan dengan giat, kerja keras, rasanya sudah capek sekali, tapi Tuhan, Sang Majikan kita berkata, "Hambaku, kasian deh loe, kamu sudah capek-capek, tapi.... yang sudah kamu lakukan itu, sebenernya SALAH SEMUA...!!"

1 komentar:

  1. kasian bener kalo emang kayak gitu, udah capek-capek malah salah semua...

    BalasHapus