Sabtu, Mei 16, 2009

Katarsis

Yunus 2:7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

Pernah nggak, menulis komentar di artikel ini, atau kirim email, atau menulis artikel? Dan sesuatu terjadi. Sudah panjang-panjang, tiba-tiba koneksi internet terputus atau listrik mati, atau apapun lah... sehingga komentar itu hilang begitu saja. Huuuhhh... sebel banget kan?

Terus apa tindakan reflek kita? Bisa teriak, bisa menggebrak meja, bisa telpon PLN, bisa marah-marah ke siapa aja yang kebetulan ada di sekitar kita, bisa membanting laptop (... haaahhh... gak mungkin lah ya...), olah raga, naik motor, pergi mancing, atau sekedar menghela napas dan memaki dalam hati.

Tindakan pelampiasan itu dinamakan Katarsis. Katharsis (berasal dari bahasa Yunani) pertama kali diungkapkan oleh filsuf Yunani, yang merujuk pada upaya "pembersihan" atau "penyucian" diri, pembaruan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan.

Perasaan sumpek yang dipendam dapat meledak sewaktu-waktu. Maka diperlukan tindakan katarsis. Katarsis ini dapat bermacam-macam. Mulai dari sekedar bercerita, menulis diary, tertawa keras, memeluk seseorang, memukul atau meninju sesuatu, pergi meninggalkan lokasi, bahkan sampai melakukan tindak kekerasan tertentu.

Dengan melakukan katarsis, perasaan negatif dapat tersalurkan dan emosi dapat kembali stabil. Dengan demikian individu yang bersangkutan dapat berpikir lebih tenang dan kembali ke aktifitasnya. Jika katarsis tertunda berbagai macam hal yang lebih buruk terhadap diri kita, dapat terjadi.

Petrus pernah mengalami stres berat. Yesus disalib dan mati. Ia lupa ajaran Yesus bahwa itu memang harus terjadi, dan Yesus akan bangkit. Ia down. What next? Ia sudah meninggalkan semuanya, investasikan segalanya, untuk ikut Yesus. Dan yang diikuti sudah tidak ada. Apa katarsisnya? Petrus pergi menarik diri, pulang kampung, dan kembali ke kehidupan lamanya. Mencari ikan. Hmm... relaxing activity juga sebenarnya. Makanya Tuhan Yesus membiarkan mereka, karena tindakan ini memang perlu.

Yoh 21:3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.

Tapi katarsis yang salah hanya akan membawa persoalan berikutnya. Mereka tambah stress. Sudah stress, cari ikan, nggak dapat-dapat lagi..!!?? Huuuh .... tambah stress (grmblll&!%!*%$Q*&Q*!!!!). Untung Yesus itu baik. Ia menemui mereka, memberi mereka solusi, dan mengembalikan mereka ke jalurnya kembali.

Contoh lain Elia. Elia habis terkuras energinya. Dia baru saja mengalahkan ratusan nabi Baal dalam pertandingan hidup dan mati di gunung Karmel. Tapi datanglah ancaman dari ratu negeri itu. Dan Elia ketakutan, lari. Dan Tuhan pun membiarkannya. Karena tindakan pergi ini memang perlu. Dan ketika dirasa Tuhan sudah cukup waktu, Tuhan menemuinya dan memberikan apa yang dia perlukan. Apa tuh? Roti bakar dan air. Hahaha... God is so good. Dia kenal kesukaan kita lho...

1Raja 19:4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

Dalam kedua contoh di atas, mereka melakukan katarsis dengan menarik diri sejenak. Dan Tuhan menemui mereka. Ketika Tuhan menemui mereka, Petrus dan Elia mendapat kekuatan baru. Mereka mendapatkan apa yang mereka perlukan. Petrus mendapat ikan, Elia mendapat makanan. Dan ada kuasa baru mengalir, sekaligus perintah untuk KEMBALI menghadapi persoalan mereka.

Jadi PERLU DIINGAT, katarsis hanya bersifat sementara. Ketika kita melakukan katarsis, kita HARUS KEMBALI untuk menghadapi persoalan. Katarsis yang benar tu, seperti apa? Sudah ada panduannya lho di Alkitab.

Mat 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Daud sering mengalami tekanan-tekanan berat. Dan dia punya kunci untuk mengatasinya. Ini katarsisnya Daud.

Mazmur 37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

Ia melakukan 4 hal:

  • Percaya kepada Tuhan
  • Melakukan yang baik
  • Diam di negeri
  • Berlaku setia

Coba renungkan sungguh-sungguh masalahmu, dan terapkan poin-poin Daud ini. Terapkan dalam menghadapi persoalan di kantormu, di sekolahmu, di gerejamu.... Cocok kan?

4 komentar:

  1. ha ha ha...klo masalah internet mati mendadak gitu sering bos..lg kirim email ngajuin penawaran tiba2 mati pet..mangkelnya minta ampun..tp untungnya kesimpen otomatis di draft.
    katarsis disalurkan ke hobi yg positif berarti bs dong ya?..yg lg mangkel, krn hobi menulis, bs dibuat cerpen. gak sengaja ketemu penerbit, dijual tuh cerpen.ternyata best seller pula...wah, asik jg ya..(sambil membayangkan)

    BalasHapus
  2. Katarsis.. aku kira tadi narsis.. hehehe...
    Kadang kita emang perlu refreshing saat ngak melihat jalan, rasanya pengen lariiiii yanggg jauuhhh.. Cuman kalo ingat Tuhan lagi dan janji Tuhan bahwa DIa akan setia terhadap kita sampai kapanpun, masa kita ngak setia padaNya???

    BalasHapus
  3. Jurnal yg ringan tapi inspiratif..

    katarsis itu waktunya kita mundur sejenak dari rutinitas, untk mengasah mata bajak dan kemudian masuk kembali ke dunia kita untk membawa hasil yg lebih baik (produktif),so katarsis it's just for a while...jgn sampe terjebak katarsis melulu smp tua hehe..

    wah well done mas..
    makin hari kupasannya makin dalam aj :)
    inspirasi yg luar biasa dcampur dengan urapan wah tambah dasyat nech..ckckck (applause : mode on)..go go go..

    hmmmm besok makan ap lg y ....hehehe..
    GBU

    BalasHapus
  4. katarsis ya,ummmm emang kadang kita perlu lakuin itu. cuma tiap orang hal yang dilakuin berbeda-beda.karena dunia ini kalo serius terus dan beban lama-lama bisa gila juga nih. Ingat aja Tuhan dak pernah kasih kesusahan melebihi yang kita bisa. dan dia tidak pernah meninggalkan hambanya. sebaliknya pada saat menghadapai suatu masalah kita harus mendekatkan diri ke Tuhan.

    BalasHapus