Rabu, April 22, 2009

Marah itu Bodoh

Pro 20:3 Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.

Zinedine Zidane mengakhiri karirnya dengan cacat. Dia menanduk Marco Materazzi setelah konon dikata-katai sebagai teroris olehnya (yang di kemudian hari ternyata tidak terbukti di pengadilan yang dimenangkan Materazzi - Kompas 8 April 2008). Apapun yang terjadi, pada saat itu, Zidane terprovokasi. Ia membiarkan amarahnya meledak. Ia yang biasa terlihat berpenampilan kalem, dingin mengatur strategi, cool, tiba-tiba naik darah, dan terlihat seperti orang bodoh. Akhirnya ia dikeluarkan dari permainan, dan Perancis kalah dari Italia dalam adu penalti.

Ini adalah salah satu contoh nyata dari ayat di atas. Betapa reputasi yang sudah terbangun sejak lama, hilang karena amarah yang meledak. Betapa kehormatan bisa hilang oleh karena seseorang membiarkan amarahnya meledak.

Jujur, saya pun pernah memiliki pengalaman pahit dengan masalah pengendalian amarah ini. Tangan saya pernah patah, karena saya pukulkan ke tembok sebagai pelampiasan kemarahan saya. Dan akibatnya, 2 bulan setelah itu saya terpaksa harus melakukan segalanya dengan tangan kiri. Lebih besar dari itu, perasaan malu dan menyesal itu tak tergantikan.

Pagi ini saya diingatkan oleh kejadian-kejadian di atas ketika merenungkan Firman Tuhan dalam Yakobus 1:19-20.

Yak 1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; 20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Inilah tips yang sangat dashyat, bagi kita orang-orang yang punya kesulitan dalam mengendalikan amarah.

  • cepat untuk mendengar,
  • lambat berkata-kata,
  • lambat untuk marah.

Ketiga tips ini berjalan berurutan. Dimulai dari cepat untuk mendengar, mengakibatkan lambat berkata-kata, dan mengakibatkan lambat untuk marah. Kuncinya ada di 'mendengar'. Ketika orang bicara, dengarkan.

Ada dua jenis cara mendengar:

  • mendengar untuk menjawab
  • mendengar untuk memahami

Jenis pertama ini, seringkali adalah orang yang sangat cermat mendengar, tapi hanya mencari inti dari pembicaraan, dengan maksud mencari bahan untuk membalas percakapan. Dia tidak sungguh-sungguh ingin mengerti apa yang dibicarakan. Dia ahli mencari celah dalam pembicaraan. Ini pendengar yang buruk. Biasanya tukang debat adalah orang jenis ini. Dia tidak segan-segan memotong pembicaraan ketika merasa sudah dapat 'bahan' menjawab.

Sedangkan jenis kedua, adalah yang dimaksudkan oleh Yakobus. Jenis ini, otomatis akan menjadi lambat berkata-kata. Karena dia akan mencerna lebih dahulu potongan-potongan informasi yang terkumpul dalam pembicaraan. Itu akan menyebabkan lambat untuk marah.

Saya sudah bertobat untuk menjadi cepat marah. Belum sempurna. Tapi saya sudah melangkah maju. Apakah Anda adalah orang yang cepat marah? Kendalikan diri Anda. Perbaiki pendengaran Anda. Ingat... Alkitab berkata, orang yang membiarkan amarahnya meledak itu orang bodoh...

1 komentar:

  1. emosi yang meledak n tdk terkontrol emang merugikan diri sendiri.aku beberapa kali melakukan hal itu..setelah marah2 gak karuan yg tersisa cuman malu, deg2xan takut tetangga ndengerin, n yg paling bikin takut lg adalah apa yg aku omongkan ditangkep sm setan hirojim..meskipun cuman sepenggal kata pun setan telinganya tajem bgt.beberapa bulan lalu ria pernah naik motor tanpa seijin aku.lha wong dilarang malah dilakukan.aku marah2 gak karuan. ria itu naik sepeda aja belum lancar, wis naik motor..dalam hati 'ngeyel banget!!jatuh baru tau rasa!!" eh...jatuh beneran tuh anak..pulang2x babak belur jatuh dr motor..habis itu aku nyeselnya setengah hidup..!!!bener2x mohon ampun sama Tuhan. sekarang klo ria naik motor diem2x, aku cuman bilang dalam hati ' Tuhan Yesus lindungi anakku dijalan, wong belum boleh naik motor tetep ngeyel tuh Tuhan...Tolong beri hikmat buat ria supaya bisa mengerti maksud org tua melarang dia naik motor..". Yang bisa aku dapet dr peristiwa itu ..boleh marah, namun yang sewajarnya aja..gak perlu over banget..
    GBU

    BalasHapus