Jumat, April 17, 2009

Daud vs Mikhal

Di Alkitab ada sebuah contoh peristiwa, dimana diadakan ibadah yang sangat luar biasa.

2Samuel 6:12 Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. 13 Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. 14 Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. 15 Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.

Peristiwa itu terjadi ketika, Daud mengangkat tabut Allah, dari rumah Obed Edom ke kota Daud. Sebelumnya tabut Allah ini dirampas orang Filistin, namun karena menimbulkan malapetaka akhirnya dikembalikan ke rumah Obed Edom. Dan Daud ingin membawanya kembali ke kotanya.

Berapa jarak dari rumah obed-Edom ke kota Daud? Beberapa literatur sejarah memperkirakan jaraknya antara 11-22 km. Pada jarak sejauh itu, setiap 6 langkah (kira-kira 6m), diadakan upacara pengorbanan. Seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan dikorbankan bagi Allah.

Sungguh ibadah yang luar biasa mahal. Ribuan lembu dikorbankan, karena saking sukacitanya. Dan ibadah ini sangat meriah. Ada sorak sorai berkelanjutan. Sang Raja Daud menari-nari dengan sekuat tenaga diikuti oleh seluruh orang Israel.

The bad news is there's always someone gets left behind. Sayangnya, ada yang ketinggalan dalam arus sukacita ini.

2Sa 6:16 Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya.

Dan akibat kejadian ini, Mikhal yang rugi sendiri. Ia tidak mendapatkan anak sampai matinya. Itu sebuah aib yang terlihat nyata bagi orang Israel.

Bagaimana dengan kita? Bila ada yang bersorak, menari, bersukacita di hadapan Tuhan, misalnya dalam ibadah, apa reaksi kita? Mengikutinya? Ikut larut dan bersorak sorai memuji Tuhan? Ikut bersukacita? Atau memandang rendah orang-orangitu? Menghinanya seperti Mikhal?

Jangan menjadi seperti Mikhal, jadilah seperti Daud. Menjadi pelopor dalam pujian dan penyembahan kepada Tuhan, menjadi teladan dalam tindakannya. Sehingga seluruh umatNya diberkati. Ayo.. semangat! Semangat! Semangat!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar